Antasari Optimistis Akhir Tahun 2016 Bebas

 Antasari Azhar
Antasari Azhar

infonusantara.co.id, Jakarta – Mantan Ketua KPK Antasari Azhar optimistis bakal menerima pembebasan bersyarat akhir 2016 nanti setelah menjalani asimilasi selama setahun sejak November 2015. Hal itu diungkapkan koordinator kuasa hukum Antasari, Boyamin Saiman.

“Beliau optimistis bebas bersyarat akhir tahun nanti. Asimilasi kan setelah menjalani 2/3 masa pidana. Beliau juga selalu menerima remisi namun, setelah asimilasi mungkin nanti beliau menjalani masa bebas bersyarat sekitar 4-5 tahun,” kata Boyamin, di Jakarta, Senin (11/7).

Antasari dipidana 18 tahun penjara setelah dinyatakan terbukti sebagai otak pelaku pembunuhan Direktur Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen tahun 2009. Banyak pihak meyakini Antasari mengalami peradilan sesat hingga upaya hukumnya selalu kandas kendati perkara yang membelitnya diyakini cacat formil dan materil.

Namun demikian, Boyamin tidak menampik, setelah menerima pembebasan bersyarat Antasari juga berniat untuk mengajukan kembali grasi yang sempat ditolak Presiden Jokowi tahun 2015 dengan alasan tidak memenuhi persyaratan dalam Pasal 2 UU Grasi yang mengatur pengajuan grasi setahun sejak putusan berkekuatan hukum tetap. Perkara Antasari telah inkrah sejak ketua majelis kasasi‎ Artidjo Alkostar menjatuhkan putusan tahun 2010.

Harapan tersebut terbuka karena Mahkamah Konstitusi (MK) telah menegaskan pemberian grasi merupakan hak prerogatif Presiden yang tidak bisa dibatasi waktu pengajuannya terhadap narapidana. ‎Di samping itu, Antasari juga belum menggunakan kesempatan upaya hukum luar biasa peninjauan kembali (PK) yang kedua setelah MK mengabulkan permohonannya dengan membatalkan Pasal 268 ayat (3) KUHAP.

Boyamin mengatakan, Antasari tidak mau hanya bebas bersyarat. ‎Alasannya, selama bebas bersyarat yang bersangkutan masih terbelenggu karena hak sipil dan politiknya tidak terpenuhi.

“Misalnya, mau buka usaha mendirikan PT kan tidak bisa karena masih bebas bersyarat. Artinya masih menjalani pidana. Beliau sarjana hukum, mau beracara sebagai advokat juga tidak bisa karena masih bebas bersyarat. Terus mau hidup bagaimana kalau hak-hak perdata, hak sosial dan politik juga masih dibelenggu,” bebernya. (SP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *