Daerah

AWASI PULAU, NEGERI DI TENGAH ASEAN

FOTO bersama usai pemasangan plang
——————-
Antisipasi dikuasai asing, Kodim 0318/Natuna harus memasang tiga ratusan plang pengawasan di pulau tidak berpenghuni di Natuna – Anambas. Di Natuna, Polres dan DPRD kabupaten di tengah Asean ini, siap mendukung.
——————–

infonusantara.co.id, NATUNA – Pakaian loreng lengkap, Komandan Komando Distrik Militer 0318/Natuna Letnan Kolonel (Inf) Yusuf Rizal berbincang serius dengan beberapa tamu di ruang kerja markasnya, di Jalan Batu Sisir, Ranai, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu pagi 27 Januari 2018. Di antara para tamu, tampak hadir Kepala Kepolisian Resor Natuna Ajun Komisaris Besar Polisi Nugroho Dwi Karyanto.

Sementara di luar ruang kerja markas komandan pasukan darat kabupaten kepulauan perbatasan di tengah Asean itu, ratusan prajurit TNI – Polri berkumpul. Belasan kenderaan roda empat, terparkir rapi hingga meluber di tepi jalan Markas Kodim 0318/Natuna.

Sebagian masyarakat awam melewati jalan depan markas, bertanya-tanya, ada apa gerangan. Apakah, situasi kabupaten di tengah Asean ini, dalam keadaan genting dari rongrongan bangsa asing? Sehingga TNI – Polri harus berkumpul, menggalang kekuatan. Nanti dulu, jangan berprasangka negatif.

TNI – Polri berkumpul, di Markas Kodim 0318/Natuna, akan melaksanakan giat akbar. Memasang plang pengawasan di sejumlah pulau terluar, terdepan dan tidak berpenghuni. Pemasangan plang, demi menjaga pulau-pulau berada dibawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, agar tidak dikuasai bangsa asing.

Secara simbolis, pemasangan plang dilaksanakan di Pulau Setanau. Pulau terpencil berpasir putih. Luas lingkar sekitar dua kilometer itu, berada di bawah naungan Kecamatan Pulau Tiga. Dari Kota Ranai, ibukota kabupaten, sekitar 100 kilometer. Dua kali naik transportasi, darat dan laut.

Di dalam kapal cepat menuju Pulau Setanau

Ya, Pulau Setanau, serta Pulau Tiga, berhadapan dengan Pelabuhan Selat Lampa. Otomatis, Letkol Yusuf dan AKBP Nugroho, bersama masing-masing rombongannya, harus menaiki kenderaan roda empat menuju Pelabuhan Selat Lampa. Jarak sekitar 75 kilometer. Setiba pelabuhan tempat menyandar kapal-kapal besar itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Natuna Yusripandi telah menunggu.

Politisi Partai Demokrat Natuna itu, tidak mau ketinggalan, turut serta memasang plang pengawasan pulau terluar, terdepan dan tidak berpenghuni, giat Kodim 0318/Natuna. “Demi kepentingan NKRI, kita harus dukung,” kata Ujang Bro, biasa disapa. “Kita tidak ingin, pulau terluar, terdepan dan tidak berpenghuni dikuasai bangsa asing.”

Di kuasai bangsa asing? Sebuah kabar terkini. Bermula dari situs privateislandsonline.com. Dalam situs terbit baru-baru ini, terbetik kabar, Pulau Ajab, salah satu pulau berada di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau akan di jual. Harga ditawar cukup fantastis, sekitar 3,3 juta dollar AS atau setara Rp44 miliar.

Pulau seluas sekitar 30 hektar itu, dideskripsikan memiliki pantai putih dan belum dikembangkan. Hanya sekitar 20 menit perjalanan naik kapal cepat dari Pulau Bintan. Selain itu, pulau ini dekat dengan lokasi wisata lain, seperti Bintan Lagoon, Pantai Trikora, Pantai Nikoi dan Lagoi. Namun, hingga kabar terpublikasi, belum diketahui pihak penjual pulau tidak berpenghuni itu. Tapi berdasarkan keterangan Private Islands Inc, selaku pengelola situs, berkantor di Ontario, Kanada.

Cerita akan dijual pulau mungil tidak berpenghuni, ternyata bukan satu-satunya pulau milik Indonesia di dalam situs itu. Pulau Toja Una Una, Sulawesi Tengah, akan di jual juga. Pulau memiliki luas sekitar 1.200 hektar, dideskripsikan memiliki perairan alami dan karang indah. Cocok sebagai wisata snorkling dan diving. Pulau Toja Una Una disebut sebagai pulau belum dikembangkan, dilansir dari Kompas.com, 16 Januari 2018.

 

Pasang plang pengawasan di Pulau Setanau

Belasan kenderaan roda empat, berhenti di depan dermaga rakyat, samping Pelabuhan Selat Lampa. Letkol Yusuf dan AKBP Nugroho bergegas turun menuju sejumlah kapal cepat akan membawa mereka ke Pulau Setanau. Tidak ketinggalan, masing-masing rombongannya.

Rupanya cuaca hari itu cerah, gelombang musim utara biasa cukup ganas, mulai bersahabat. Terlihat, didalam rombongan, pengusaha Natuna, Nato. Ujang Bro, Ketua DPRD Natuna, turut bergabung.

Dengan menggunakan sejumlah kapal cepat cukup mungil, kecuali milik Satuan Polisi Perairan Polres Natuna, rombongan berlayar menuju ke Pulau Setanau. Satu jam waktu tempuh, pulau nan indah itu, sebagian prajurit TNI – Polri telah menunggu. Rupanya masyarakat Pulau Tiga, dominan ibu-ibu tidak mau ketinggalan.

Mereka mempersiapkan santap makan siang rombongan, dengan menu sederhana, namun wah. Ikan bakar dan singkong rebus. Prajurit TNI – Polri telah lama menanti, mempersiapkan kelapa muda, pelepas dahaga. Tidak seberapa jauh dari lokasi berkumpul, terpasang plang warna dominan hijau.

Plang belum disemen kaki besinya itu tertulis: Pulau Setanau, Pengawasan Koramil 03/Sedanau, Kodim 0318/Natuna. “Bagi pemilik lahan Pulau Setanau, jangan khawatir, kami pasang plang bukan berniat menguasai,” kata Letkol Yusuf kepada sejumlah awak media, usai acara menyemen kaki plang, bersama AKBP Nugroho, Ketua Dewan, Ujang Bro dan lainnya. “Kami ingin melindungi pulau-pulau tidak berpenghuni dari dikuasai bangsa asing.”

FOTO bersama usai pemasangan plang

Menurut Dandim, pengawasan pulau-pulau terluar, terdepan dan tidak berpenghuni di Natuna, hampir mencapai seratusan. Belum termasuk pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Anambas. “Wilayah kerja Kodim 0318/Natuna tidak hanya Natuna,” kata Letkol Yusuf. “Kepulauan Anambas masuk juga.”

Sebagai aparat keamanan negara, serta demi Merah Putih, Letkol Yusuf di dukung Kepolisian serta pemerintah daerah akan memasang ratusan plang di pulau-pulau. Pemasangan memerlukan anggaran cukup besar ini, sementara masih menggunakan dana Kodim 0318/Natuna. “Agar anggaran pengeluaran sedikit murah,” katanya. “Kita pasang plang triplek.”

Kedepan, jika mendapat alokasi anggaran dari pemerintah pusat, atau pemerintah daerah, plang triplek akan diganti dengan permanen. “Saya rasa bagus juga pakai plang triplek,” katanya setengah bercanda. “Dengan begitu, kita tetap terus melakukan patroli, sambil mengganti plangnya jika rusak.”

Dalam melaksanakan patroli, prajurit Kodim 0318/Natuna, baik Koramil maupun Babinsa, akan menggunakan pompong atau kapal kecil milik nelayan. Karena menggunakan pompong, bisa merapat langsung ke bibir pantai. “Kebijakan memasang plang di pulau-pulau terluar, terdepan dan tidak berpenghuni, arahan komando atas, yaitu: Korem 033/Wira Pratama,” terang Letkol Yusuf. “Kebijakan ini penjabaran dari instruksi pemerintah pusat.”

AKBP Nugroho, sebagai prajurit Bhayangkara selalu siap mendukung menjaga pulau terluar, terdepan dan tidak berpenghuni. Sebab semua itu, demi kedaulatan NKRI di perbatasan. “Di pulau terluar atau terdepan, anggota kita telah mendapat tunjangan penjagaan dari pemerintah pusat,” tegasnya. “Setiap bulan Satpolair kita melakukan patroli, bukan hanya di pulau-pulau terluar, juga pulau tidak berpenghuni.”

MENYUSURI Pulau Setanau

Berbicara pulau tidak berpenghuni, bukan terluar, perwira melati dua akrab dengan awak media itu, menyarankan kepada pemilik lahan, mengurus surat menyurat agar jelas legalitasnya. Sebab informasi ia terima, pulau-pulau tidak berpenghuni, pemilik lahan dari historis keluarga raja-raja tempo dulu.

Padahal kedepan, keturunan raja-raja ini, akan terus ramai. Jika tidak diperjelas kepemilikan, akan menjadi masalah suatu hari nanti. “Saya menyarankan kepada ahli waris merasa pemilik lahan, segera mengurus surat menyurat,” pintanya. “Saya juga mengimbau, kepada pemilik lahan pulau-pulau terpencil, jangan menjual kepada bangsa asing, demi menjaga kedaulatan NKRI.”

Ujang Bro, Ketua DPRD Natuna, siap mendukung TNI – Polri menjaga pulau terluar, terdepan dan tidak berpenghuni. Jika ditemui permasalahan dilapangan, ia bersama rekan-rekan wakil rakyat Natuna, siap berkoordinasi dengan TNI – Polri, serta Pemerintah Kabupaten Natuna.

Sebab setahu mantan kontraktor Natuna itu, dari 154 pulau di Natuna, 27 pulau berpenghuni, 127 pulau tidak berpenghuni. Jadi menjaga pulau-pulau tidak berpenghuni ini, memakan waktu dan biaya. “Saya sangat setuju pernyataan Pak Kapolres, agar pemilik lahan di pulau-pulau, mengurus surat menyuratnya,” kata Ujang Bro. “Lalu, jangan menjual lahan pulau miliknya kepada bangsa asing.”

Data di terima Info Nusantara, Kodim 0318/Natuna harus memasang plang pengawasan di pulau tidak berpenghuni se-Natuna – Anambas sebanyak 356 plang. Dengan rincian, 127 pulau di Natuna, 229 pulau di Anambas. Sedangkan jarak antar pulau dipisahkan lautan lepas.

Sehingga diperlukan anggaran cukup besar merealisasinya. Jadi Pemerintah Republik Indonesia, dibawah kepimpinan Presiden Joko Widodo harus memikirkan nasib prajurit TNI – Polri yang menjaga, maupun patroli, di wilayah Kabupaten Natuna. Karena nyawa taruhan menjaga daerah perbatasan serta kepulauan NKRI. (*andi surya)

 

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker