BANDARA “MENYEPI” USAI DIRESMIKAN JOKOWI

Foto Bandara Ranai, Natuna dan Presiden Jokowi
Foto Bandara Ranai, Natuna dan Presiden Jokowi

infonusantara.co.id,RANAI – Semenjak di tinggal Jokowi, bandara ini lebih memilih sendiri, dan fokus menyepi. Status lelucon sindiran Edi Suroso di akun Grup Berita Natuna, Ahad 23 Oktober 2016. Status lelucon sindiran Facebooker ini masih bias, tidak diketahui mengarah kepada siapa? Yang pasti, lelucon sindiran ini ditujukan kepada pihak-pihak berkepentingan, terutama Presiden Jokowi, nama lengkap Joko Widodo, yang telah memberi harapan besar kepada masyarakat Natuna karena meresmikan Bandar Udara (Bandara) Ranai, Kamis 6 Oktober 2016.

Kunjungan Jokowi ke kabupaten berada ditengah negara Asean ini, bukan hanya meresmikan bandara, kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu juga ingin menghadiri Latihan Perang Angkasa Yudha 2016, sekaligus tinjau kesiapan proyek pembangunan Pelabuhan Perikanan di Selat Lampa. Dalam peresmian Bandara, Jokowi mengatakan, pembangunan infrastruktur sangat penting, terutama bidang transportasi udara, agar semakin meningkat mobilitas orang dan barang. Namun pembangunan infrastruktur, harus dibarengi peningkatan ekonomi masyarakatnya. Kata Jokowi, “Biar berimbang, antara peningkatan pembangunan infrastruktur dengan peningkatan ekonomi.”

Dengan beroperasi Bandara Ranai,  kata Jokowi, yang mempunyai landasan pacu 3.865 meter persegi ini bisa menjadi jembatan udara antara Natuna ke Tanjung Pinang, Batam, provinsi serta kabupaten dan kota lain. Otomatis kedepan akan meningkat pendapatan negara dan daerah pada sektor pariwisata dan perikanan. Demikian juga dengan pengiriman logistik lebih cepat dan murah. “Pada hari ini saya resmikan pemakaian Bandara Ranai,” katanya.

Menteri Perhubungan Republik Indonesia Budi K. Sumadi dalam laporan mengatakan, bandara merupakan kebutuhan sangat penting bagi daerah perbatasan dan terdepan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Agar dapat menunjang pergerakan ekonomi daerah perbatasan lebih baik. Karena bandara salah satu moda transportasi paling cepat dari transportasi lain, misal kapal laut. Kata Budi, “Dengan diresmikan Bandara Ranai, jarak antara Natuna dengan kabupaten dan kota lain, semakin dekat.”

Celakanya, hampir sebulan diresmikan, bandara sipil menggunakan landasan pacu TNI Angkatan Udara itu, belum juga dioperasikan. Sehingga menjadi bahan tertawaan para Facebooker Natuna, contoh Edi Suroso di akun Grup Berita Natuna. “Kayak Pak Edi Suroso,” komentar Natuna Aripin. Mungkin maksud Folower aktif yang juga mantan wartawan itu, Bandara Ranai sepi, senasib dengan Edi Suroso, pembuat status. “Itu lah berada di sarang burung gereja,” sindir Idris_Aa Canyk. “Bukannya bandara berada di sarang burung layang-layang,” balas Lanon BeraVo. “Kasian,” komentar Toto Supriyanto.

Sukkur melihat, setelah Presiden Jokowi foto-foto, habis cerita tentang bandara itu. Tiket pesawat pun tetap mahal. Tiket pesawat mahal, bukan rahasia. Waktu tempuh hanya satu jam, Natuna – Batam, harga tiket antara Rp1,3 juta hingga Rp1,8 juta. Seandai di banding, waktu tempuh dua jam, Batam – Surabaya, harga tiket antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta rupiah. Sementara, dengan tidak beroperasi Bandara Ranai, penerbangan masih numpang di terminal milik TNI AU. “Betul, sia-sia peresmian kemarin,” balasan Lanon BeraVo.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Natuna Wan Siswandi – edisi sebelumnya- menegaskan, setelah serah terima dan diresmikan Presiden Jokowi, operasional Bandara Ranai di kelola Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Jadi, segala sesuatu tentang operasional, pengrekrutan petugas dan sebagainya, menjadi tanggungjawab Kementerian.

Namun, Wan Sis -biasa disapa- tetap merasa senang, penerimaan petugas, diambil dari putra putri Natuna, terutama pegawai honor Dinas Perhubungan. “Anak daerah yang utama di terima bekerja,” kata mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah Natuna itu, ketika ditemui dirumahnya, Kamis malam 13 Oktober 2016. “Tahap awal, kita belum tahu, berapa jumlah petugas bandara di rekrut.”

Apa keuntungan daerah dengan beroperasinya Bandara Ranai, sebab dibangun menggunakan anggaran daerah, diserah terima dan dioperasikan Kementerian Perhubungan? Bicara keuntungan, kata Wan Sis, seluruh bandara di Indonesia di kelola Kementerian dan Angkasa Pura, belum terdengar untung. Yang terpenting bagi daerah, semakin meningkat mobilitas orang dan barang, serta tiket murah. Kata Wan Sis, “Mudah – mudahan, tiket pesawat bisa di bawah Rp1 juta.”

Sebab, Wan Sis merasa prihatin. Selama ini, harga tiket Natuna ke Batam, atau sebaliknya, dengan jarak penerbangan hanya satu jam, mencapai Rp1,7 juta. Coba bandingkan daerah lain, jarak penerbangan hanya satu jam, harga tiket sekitar Rp500 ribu hingga Rp700 ribu. “Dengan beroperasi Bandara Ranai dalam waktu dekat, harga tiket bisa murah,” ulangnya lagi, sambil mengatakan, keuntungan yang jelas diterima daerah, dalam pengelolaan taksi, kantin, reklame dan parkir.

Sebelum menutup pembicaraan,  Wan Sis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada TNI AU yang selama ini selalu membantu, terutama pemakaian lahan serta landasan pacu. “Kerjasama antara daerah dengan TNI soal operasional bandara, itu biasa,” katanya. “Di beberapa daerah, kerjasama itu, masih berlangsung.” (*andi surya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *