Breaking NEWS
21 August 2018

Bangunan Ketinggalan Zaman, Nasib Masjid Al-Huda Kadur

Danlanal Ranai tinjau Masjid Al – Huda Desa Kadur

infonusantara.co.id, PULAU LAUT – Status cukup mentereng, masjid. Namun fakta lapangan, bangunan Masjid Al-Huda Desa Kadur, Pulau Laut, sebuah mushola ketinggalan zaman. Tinggi langit-langit dalam bangunan, tak sampai dua meteran. Diperkirakan cukup panas bagi umat Muslim menunaikan sholat.

Lantai bangunan, belum keramik. Teras masuk, jalan tanah. Tempat whudu, ala kadar. Sehingga semakin sempurna, masjid di tengah-tengah ibukota Desa Kadur, bagai bangunan era penjajahan.

“Kita berencana bangun tempat whudu dan pasang keramik lantai masjid,” kata Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Harry Setyawan bersama istri, Wini Widayanti saat berkunjung ke Pulau Laut, menyambangi masjid itu, Rabu 11 April 2018. “Program ini kepedulian TNI Angkatan Laut pada pulau perbatasan.”

Ya, Pulau Laut, salah satu pulau perbatasan di Indonesia. Pulau krisis signal ponsel itu, hanya tiga jam dari Negara Vietnam. Meski pun pulau terpencil, Pulau Laut punya segudang kekayaan alam. Di laut, minyak, gas dan perikanan terhidang, tunggu investor santap.

Di darat, tanah subur, pantai indah, sangat pas sebagai tempat pariwisata. Namun pemerintah kurang tanggap dengan potensi Pulau Laut. Jika dikembangkan, pulau perbatasan di tengah negara Asean ini, dapat menyaingi tempat wisata kelas dunia, Hawaii misalnya.

Camat Pulau Laut Sudirman merasa bosan mengusulkan pembangunan Masjid Al-Huda Desa Kadur. Tiap tahun usul di Musrenbang Natuna, tiap tahun tak muncul anggarannya. Padahal bangunan masjid itu, sudah waktu dilakukan rehabilitasi besar-besaran.

“Saya usul sekitar Rp1,5 milyar, agar Masjid Al-Huda, seperti masjid-masjid yang ada di Indonesia,” katanya. “Masjid ini satu-satunya di Desa Kadur, saya harus berjuang, supaya anggarannya muncul, Insya Alloh pada 2019 akan datang,” katanya lagi, diamini imam Masjid Al-Huda Desa Kadur, Haji Said Suni dan Haji Ismail. (*andi surya)