Breaking NEWS
17 October 2018

Berkas P19, Tanker Pelanggar Kedaulatan NKRI Bakal Bebas

MT Hai Soon X (atas), Kajari Natuna Juli Isnur (kiri) dan Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Harry Setyawan

infonusantara.co.id, NATUNA – Kajari Natuna Juli Isnur tak bisa menjelaskan secara detail tentang P19, alias pengembalian berkas perkara kasus MT Hai Soon X kepada Lanal Ranai. Karena pengembalian berkas belum lengkap itu, domain Kejaksaan sebagai Jaksa Penuntut Umum dengan Lanal Ranai sebagai penyidik.

“Danlanal (Kolonel Laut (P) Harry Setyawan-red) sudah jelaskan, berkas apa yang kurang dalam perkara itu,” kata Juli, di dampingi Kasi Pidum Kejari Natuna Immanuel Tarigan dan Kasi Datun Kejari Natuna Bimo P. Nugroho, Senin 9 Oktober 2018 siang. “Terus terang, saya tak bisa jelaskan detailnya.”

Sebagai JPU, dengan empat staf Kejari Natuna lainnya, Juli terus menunggu kekurangan berkas MT Hai Soon X dari Tim Penyidik Lanal Ranai. Tiga bulan berkas tak lengkap, maka masalah tanker itu, tak bisa di proses ke pengadilan.

“Saya tak bisa mengatakan, MT Hai Soon X, sebuah kasus. Kita tetap menggunakan sistem praduga tak bersalah,” tegas Juli. “Intinya, kita menunggu perbaikan berkas, agar dapat ditingkatkan menjadi P21, atau berkas perkara lengkap.”

Sementara MT Hai Soon X, di tangkap KRI Yos Sudarso memasuki perairan Natuna, Indonesia, tanpa izin pada 24 Juli lalu. Tanker berbendera Cook Islands membawa bahan bakar minyak sekitar Rp23 milyar di tangkap, hanya sepelemparan batu dari perairan Pulau Senoa, depan Desa Sepempang, Ranai.

Setelah di tangkap, di giring ke Fasilitas Pelabuhan TNI Angkatan Laut (Faslabuh) Selat Lampa. Dua hari berselang, Komandan KRI Yos Sudarso-353 Kolonel Laut (P) Henry Ballo menyerahkan kapal kepada Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Harry Setyawan.

“Saya sudah limpahkan berkas tanker pelanggar kedaulatan negara Indonesia itu, ke Kejaksaan Negeri Natuna,” kata Harry saat dikonfirmasi, Selasa 2 Oktober 2018 malam. “Kejaksaan mengembalikan berkas, dengan alasan masih P19, alias belum lengkap.”

Akibat berkas dikembalikan, perwira melati tiga itu, terpaksa melepaskan Nakhoda MT Hai Soon X, Than Tha Hlaing. Sebab, masa penahanan telah habis. Namun, biarpun tahanan itu dilepas, sejumlah peralatan penting di mesin kapal diambil, agar MT Hai Soon X tetap tak bisa berlayar.

“Nakhoda dilepas, langsung di antar ke kapalnya yang tertambat di Faslabuh Selat Lampa,” terang Harry. “Kita akan terus kebut perbaikan berkas. Supaya kasus kapal tanker itu, segera di adili Pengadilan Negeri Natuna.”

Menurut Harry, kronologis kejadian tertangkapnya MT Hai Soon X, karena KRI Yos Sudarso-353 merasa curiga pada satu kapal tanker menurunkan seorang penumpang di wilayah perairan teritorial Indonesia (sekitar Pulau Senoa-red).

Hasil pemeriksaan, tanker bernama MT Hai Soon X itu, di duga keras telah melakukan tindak pidana pelayaran. Mengingat kapal bergerak tak sesuai izin berlayar, atau port clearance-nya dari Singapura ke Uni Emirat Arab, bukan ke Natuna. Karena tak sesuai izin berlayar, serta menurunkan seorang penumpang di perairan Indonesia, KRI Yos Sudarso-353 memutuskan menggiring kapal itu, ke Faslabuh Selat Lampa.

Lalu, Tim Penyidik Lanal Ranai meluncur ke Faslabuh Selat Lampa, sekitar 70 kilometer dari Kota Ranai, ibukota kabupaten kepulauan perbatasan di tengah negara Asean ini, pada 25 Juli 2018. Di Faslabuh, terjadi pertemuan dengan Komandan KRI Yos Sudarso-353, serta Nakhoda MT Hai Soon X, asal Myanmar.

Pertemuan, membahas serah terima pelimpahan awal perkara MT Hai Soon X, dari KRI Yos Sudarso-353 ke Lanal Ranai. Rupanya sebagai nakhoda kapal, Than Tha Hlaing tak mau tanda tangan pelimpahan berkas, dengan alasan menunggu penasehat hukum, atau lawyer.

Ke-esokan siang, 26 Juli 2018, berkas perkara awal itu, baru diserah terima ke tim penyidik Lanal Ranai. Berupa berkas-berkas dokumen kapal, nakhoda beserta kru MT Hai Soon X sebanyak 17 WNA, 1 WNI dan 1 penumpang WNI. Bukan hanya kapal serta kru dan penumpang diserah terima, juga muatan bahan bakar minyak solar sekitar 2349,259 Metric Tone.

Usai serah terima, Tim Penyidik Lanal Ranai melakukan pemeriksaan dokumen kapal. Hasil pemeriksaan, Nakhoda MT Hai Soon X, Than Tha Hlaing dan Second Engineer-nya, Arifin Amirul Maragau di bawa ke Markas Komando Lanal Ranai.

Harry melaporkan permasalahan MT Hai Soon X pada atasannya, Pangkoarmada I, melalui telegram. Balasannya, ia di perintah melakukan penyelidikan. Bila terbukti kapal itu melakukan tindak pidana, segera proses sesuai ketentuan berlaku di Indonesia.

Maka, sebagai Danlanal Ranai, Harry menerbitkan surat perintah penyidikan pada 27 Juli 2018. Nakhoda kapal, Than Tha Hlaing di tahan selama 20 hari, terhitung sejak 27 Juli hingga 15 Agustus 2018. Second Engineer MT Hai Soon X, Arifin Amirul Maragau, bersama tim penyidik Lanal Ranai, menjemput kru kapal tertambat di Faslabuh Selat Lampa.

Tetapi tak semua kru kapal, berjumlah belasan orang itu di bawa ke Mako Lanal Ranai. Empat kru, tetap menjaga kapal, salah seorang, Arifin Amirul Maragau. Hasil pemeriksaan, serta mendatangkan para ahli, akhirnya berkas perkara MT Hai Soon X lengkap.

Sebelum berkas perkara lengkap, dilakukan perpanjangan penahanan nakhoda kapal, Thai Tha Hlaing, dari 16 Agustus hingga 24 September 2018. Akhirnya berkas perkara di limpahkan ke Kejari Natuna pada 30 Agustus 2018. Namun Kejaksaan mengembalikan berkas, alasannya belum lengkap, atau P18 pada 5 September 2018, dan P19 pada 12 September 2018.

“Salah satu alasan belum lengkap, kita di minta mencari alat dukung dari saksi Ahli Hukum Laut Internasional,” kata Harry. “Saksi ahli hukum di bidang itu, perlu proses panjang menghadirkannya.”

Harry merasa tak perlu mendatangkan Ahli Hukum Laut Internasional, sebab cukup Ahli Hukum Perbatasan dari Pemerintah Kabupaten Natuna. Apalagi, Nakhoda MT Hai Soon X, Than Tha Hlaing telah mengakui kesalahannya.

“Kita punya alat bukti cukup membawa kapal itu ke pengadilan,” kata Harry lagi. “Karena berkas dianggap Kejaksaan belum lengkap, terpaksa kita lepas nakhoda kapal itu, dan di antar ke kapalnya.”

Orang nomor satu penjaga laut perbatasan Indonesia itu kembali meyakinkan, nakhoda dan kru kapal, serta seorang penumpangnya tak akan bisa bergerak membawa kapal. Alat penting di mesin kapal, dilucuti pihaknya.

“Insya Alloh, masalah ini akan tetap kita bawa ke pengadilan,” tegas Harry. “Saya terus koordinasi dengan atasan, serta Pak Kajari Natuna Juli Isnur, agar kapal pelanggar perairan Indonesia itu, terjerat hukum.” (*andi surya)