Breaking NEWS
22 August 2019

Didik, Pengrajin Tangan di Negeri Wisata

DIDIK, sedang melihat anggotanya membuat aksesoris

infonusantara.co.id, NATUNA – Didik Setiawan, satu-satunya pengrajin tangan (handicraft) aksisoris kayu tanpa pernah tersentuh pembinaan Pemerintah Kabupaten Natuna. Meski tak pernah mendapat pembinaan, hasil kreasi anak tempatan, berupa kalung, gelang, cincin, tasbih, tongkat komando, cemeti (cambuk) hingga pipa rokok itu menghasilkan karya, tak kalah menarik dari pengrajin asal Bali, yang sudah terkenal seantero dunia.

“Apapun aksesoris ingin dipesan, asal berbahan kayu, kami siap buat,” kata Didik ketika ditemui di bengkel usahanya berukuran 4 x 6, menyatu rumah tinggalnya, berdinding kayu, di Ranai Darat, Kamis sore 7 Februari 2019. “Harga bersahabat, dari terendah Rp50 ribu, tertinggi Rp800 ribu.”

Harga terendah, menurutnya yang mulai mampu memperkerjakan tiga anak tempatan itu, membuat cincin. Harga tertinggi, membuat cemeti. “Semakin banyak menggunakan bahan kayu, serta kerumitan ukiran,” terang Didik. “Terpaksa, kita patok harga sedikit mahal.”

TONGKAT komando hasil kerajinannya

Yang menarik, aksesoris dibuat lelaki muda itu, berbahan kayu “bertuah” asal kabupaten kepulauan perbatasan di tengah negara Asean ini. Yaitu: kayu Sentigi Batu, Mentulung, Arang dan lainnya. Kayu-kayu itu, sebagian dapat memberi efek kesehatan bagi manusia.

“Kalau bahan pembuat aksesoris kayu, Natuna sangat melimpah,” Didik meyakinkan. “Hanya modal usaha, kita kekurangan,” katanya lagi, sambil menambahkan, pangsa pasar cukup lumayan, pembeli dari luar daerah, seperti: Surabaya, Jakarta, Bali, Medan hingga Papua. Para pembeli dari luar ini pesan, karena merasa suka dengan produk-produk buatan Didik dan pekerjanya.

“Sementara kita produksi aksesoris kayu, sesuai pesanan pembeli,” kata Didik yang telah lebih tiga tahun menjadi pengrajin di kabupaten kaya sumber wisata alam ini. “Bukan hanya modal pas-pasan, kita juga perlu bantuan promosi dari Pemerintah Kabupaten Natuna, melalui dinas terkaitnya.”

GELANG dan pipa rokok

Bicara dinas terkait, Didik sedikit kecewa. Sebab sering dikunjungi pegawai dinas itu. Namun, ia kurang tahu, dari instansi mana. Dalam kunjungan, para pegawai dinas selalu memfoto bengkel hingga hasil kerajinan tangannya. “Kami sering di foto,” katanya. “Tak tahu, foto-foto itu untuk apa?” (andi surya)

336x280ad