Hampir 10 Ribu Pelajar di Tanjungbalai Positif Narkoba

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait

infonusantara.co.id Medan – Meningkatnya pemanfaatan anak-anak sebagai kurir dan pengedar Narkoba oleh bandar dan cukong di Indonesia, sudah sangat menakutkan dan mengancam masa depan anak yang merupakan generasi penerus bangsa.

Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Komnas Anak dan sejalan pula dengan fakta dan data yang dimiliki Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, selain dimanfaatkan para bandar Narkoba, yang lebih memprihatinkan, anak juga dimanfaatkan dan dikorbankan oleh orangtua kandung untuk menjadi kurir dan pengedar di kalangan anak dan umum baik dalam skala kecil dan besar, ujar Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait baru-baru ini kepada wartawan.

Disebutkannya, anak yang dilibatkan dan dikorbankan itu berstatus pelajar, berusia 10-15 tahun. Selain itu juga para cukong juga memanfaatkan ibu rumah tangga atau perempuan miskin serta perempuan yang berlatarbelakang korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Dari temuan Quick Investigator Team Komnas Anak di beberapa tempat di kota dan kabupaten, anak-anak usia sekolah sebagai target memanfaatkan jam istirahat sekolah, kantin dan tempat sunyi seperi toilet sekolah sebagai tempat transaksi barang haram itu.

Ironisnya, di salah satu kota kecil di Tanjungbalai Sumut, Quick Investigator Komnas Perlindungan Anak enam bulan lalu juga menemukan fakta, dari 300 siswa dari 10 SMK dan 1 Akademi yang menjalani tes urine, hanya 1 SMK yang bebas Narkoba. Komnas Perlindungan Anak juga menerima laporan di kota yang sama, 41.08 persen dari 9.780 pelajar SMP dan SMK positif menggunakan Narkoba.

Dari hasil kunjungan Komnas Perlindungan Anak di beberapa Lapas di Indonesia khususnya untuk kasus tindak pidana Narkoba, didominasi usia anak, remaja serta perempuan.

Hal lain yang perlu diwaspadai aparatur penegak hukum di Indonesia khususnya Direktorat Narkoba Mabes Polri,  BNN serta aparatur penegak hukum lainnya, agar cermat dan jeli terhadap para cukong dan bandar Narkoba yang seringkali memanfaatkan celah-celah hukum untuk menghindari tindak pidana khususnya ketentuan UU Sistim Peradilan Anak. Dimana anak dalam klasifikasi usia belum cukup 12 tahun dan masih di bawah 14 tahun tidak akan dikenakan hukuman lebih dari 10 tahun dan hukuman mati.

Untuk itu, demi kepentingan terbaik anak (the best interest of the child), Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga pelaksana tugas dan fungsi keorganisasian dari Perkumpulan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pusat yang sejak 1998 memfokuskan diri di bidang pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia, mengajak dan menyerukan kepada masyarakat agar waspada Narkoba dan mendorong orangtua, keluarga dan masyarakat menempatkan Narkoba bukan saja musuh Polri dan BNN tetapi juga musuh bersama masyarakat.

Perang dan cara cerdas menangkal peredaran Narkoba di kalangan anak-anak harus dimulai dari rumah dan lingkungan terdekat anak. Rumah dan segala isinya harus dijamin bebas dari Narkoba. Rumah dan lingkungan sekolah harus pula menjadi benteng dan garda terdepan untuk menjaga dan melindungi anak serta membekali anak dari segala bentuk bujuk rayu para cukong dan bandar Narkoba yang memanfaatkan anak sebagai pengedar. Jangan lengah, Narkoba dalam segala bentuk dan jenisnya telah beredar dan mengancam anak kita, ujarnya mengakhiri. (HSB)