Hujan Tak Turun, A Surbakti Tetap Beraktivitas Mengolah Lahan Pertanian

IMG_2005

infonusantara.co.id, BRASTAGI
Para Petani Desa Merdeka, Brastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara menjerit akibat hujan tak turun dalam waktu lama. Namun, meski pun hujan tak turun, mereka tetap beraktivitas seperti biasa, bercocok tanam sayur-mayur. Hanya saja jika hujan tak juga turun, mereka sangat mengkhawatirkan tanaman sayur mayur baru ditanam bakal layu dan akhirnya mati. Sedangkan sebagian lagi petani sedang menggarap lahan pertanian dan selanjutnya melakukan penanaman awal sayur-mayur sembari menanti hujan turun.

A Surbakti (46), salah satu petani di Keling Desa Merdeka kepada Info Nusantara belum lama ini, menyampaikan keluhannya akibat hujan yang tak kunjung turun tersebut. “Sudah hampir sebulan hujan tak turun-turun di desa kami. Tanaman daun prei sudah sempat ditanam terancam layu dan mati karena kekurangan air. Kalau mengharapkan air tampungan yang ada di dalam kolam untuk menyiram tanaman, tentu tak memungkinkan. Debet airnya sangat tak memadai bahkan air di dalam kolam milik saya yang ukurannya tak seberapa itu sudah sangat menyusut,” ungkap Surbakti bernada sedih.

Tak turunnya hujan dalam waktu panjang dipastikan membuat  petani yang memiliki persedian stok air memadai di kolam juga akan merugi. Pasalnya, mereka harus mengeluarkan dana ekstra saat mengerahkan pekerja yang jumlahnya paling sedikit sepuluh orang, guna menyirami lahan pertanian dengan cara manual. Sedangkan bagi petani tak memiliki persedian air, alamat merugi total apabila hujan tak kunjung turun. Mengingat lahan pertanian sudah ditumbuhi bibit sayur-mayur maupun bakal panen dipastikan layu dan semakin cepat mati akibat terkontaminasi debu dari erupsi Gunung Sinabung. Saat ini saja,kata Surbakti, “Banyak tanaman sayur-mayur milik para petani mulai menguning karena kekurangan pasokan air.”

Menurut Surbakti, fenomena hujan tak turun dalam waktu lama sangat jarang terjadi sebelumnya. Ia tak bisa memastikan, apakah ada kaitan dengan Gunung Sinabung yang terus menerus erupsi menyemburkan debu. Akibat hujan tak turun dalam waktu lama di Brastagi dan sekitar, suplai air bersih oleh perusahaan air bersih jadi terganggu sehingga warga harus berhemat air. Bahkan banyak warga terpaksa mandi menjelang malam seusai beraktivitas dari ladang untuk selanjutnya mandi di tempat pemandian umum yang airnya mengandung berelang berasal dari pegunungan. Tempat pemandian ini dikelola oleh pihak swasta yang memungut tarif Rp 5000 per orang per satu kali mandi. (*jansen)