Info untuk Presiden Jokowi Dwelling Time 7 Hari di Pelabuhan Batu Enam

pelabuhan batu 6 tanjungpinang

pelabuhan batu 6 tanjungpinang

infonusantara.co.id, Tanjungpinang – Sejumlah pengusaha yang memanfaatkan jasa Pelabuhan Batu Enam, Tanjungpinang, Provinsi Kepri sejak lama menjerit karena waktu bongkar muat barang atau dwelling time mencapai 7 hari lamanya. Persoalan dwelling time yang sudah berlangsung puluhan tahun ini tentu tidak sejalan dengan nawacita dan program Presiden Jokowi yang mengharuskan dwelling time cukup 2 hari saja.

Presiden Jokowi dalam acara peresmian Terminal Peti Kemas Kalibaru, Pelabuhan Utama Tanjung Priok beberapa waktu lalu, tidak hanya menekankan dwelling time 2 hari di Pelabuhan Tanjung Priok, juga di seluruh pelabuhan di Tanah Air, termasuk di Pelabuhan Batu Enam Tanjungpinang dan di pelabuhan lainnya, dwelling time harus bisa 2 hari.

Sumber Koran ini mengungkapkan, dwelling time di Pelabuhan Batu Enam Tanjungpinang yang diluar batas toleransi ini semakin diperburuk oleh kondisi kedalaman alur laut menuju pelabuhan yang dangkal sehingga mengganggu arus masuk dan keluar kapal-kapal barang. “Kondisinya tergantung cuaca yang berlaku. Ketika terjadi pasang tinggi, kedalaman air laut bisa mencapai 4 meter. Namun, jika terjadi pasang rendah bisa mencapai 2 meter. Dengan kondisi demikian tentu sangat mempengaruhi arus masuk dan keluar kapal-kapal yang membawa barang-barang, Dipastikan kapal-kapal barang yang masuk dan keluar sangat terganggu, terlebih saat terjadi pasang rendah, kapal-kapal barang harus terlebih dahulu menunggu waktu pasang tinggi,” ungkap sumber yang tidak bersedia diungkap jati dirinya ini.

Sementara itu Gubernur Provinsi Kepri Drs. Nurdin Basirun ikut prihatin dengan kondisi Pelabuhan Batu Enam Tanjungpinang yang dikeluhkan banyak pelaku usaha yang memanfaatkan jasa pelabuhan ini. Nurdin Basirun menyampaikan keprihatinannya ketika meresmikan Rumah Sakit Sudarsono Dharmo Suwito di Kawasan Industri Kabil, Batam beberapa waktu lalu. “Jika kapal barang membawa barang mencapai 200.000 ton masuk ke Pelabuhan Singapura, bongkar barangnya hanya dua hari. Kemudian muat barang lagi hanya dua hari. Sedangkan kapal barang yang masuk ke Pelabuhan Batu Enam, bongkar barangnya sampai tujuh hari meski barang yang dibongkar hanya sekitar 1000 ton saja,” kata Nurdin bernada sedih.

Menurut Gubernur yang pernah menjabat Bupati Kabupaten Karimun ini, kondisi bongkar muat barang yang memakan waktu sangat lama di Pelabuhan Batu Enam membuat para pengusaha yang memiliki barang merasa sangat dirugikan. Namun, namanya pengusaha tentu tidak mau merugi dan segala biaya tambahan tidak terduga akibat terlalu lama tertahan di pelabuhan, pasti berimbas kepada harga barang-barang menjadi mahal di pasaran sehingga masyarakat pembeli merasa dirugikan.

Sumber Koran ini mengungkapkan lagi, Pelindo I Tanjungpinang sekitar enam tahun lalu pernah berencana mengeruk alur laut Pelabuhan Batu Enam yang dangkal itu. Meski kapal-kapal pengeruk sudah didatangkan dari luar Tanjungpinang, namun aktivitas pengerukan alur laut yang dangkal tersebut tidak terealisasi alias tetap di awang-awang. Hingga 1 bulan lamanya berlabuh kapal-kapal pengeruk di Pelabuhan Batu Enam, aktivitas pengerukan alur laut tidak juga dikerjakan dan akhirnya kapal-kapal pengeruk dipulangkan ke asalnya. Ironisnya, sampai sekarang pun alur laut Pelabuhan Batu Enam yang dangkal tersebut tidak dibereskan sehingga arus masuk dan keluar kapal-kapal barang sangat terganggu.

Pemerhati ekonomi Rivaldi Sumantri mengatakan, kondisi alur laut menuju Pelabuhan Batu Enam yang dangkal tersebut sangat merugikan pengusaha yang memanfaatkan jasa pelabuhan. Pasalnya, barang-barang milik para pengusaha yang seyogianya segera di bongkar di pelabuhan harus terlebih dahulu menunggu pasang tinggi baru bisa berlabuh dan membongkar barang. Akibatnya, pengusaha sangat dirugikan dari segi waktu dan belum lagi dwelling time memakan waktu 7 hari lamanya yang sudah berlangsung puluhan tahun. “Pengusaha yang dari awal ingin untung dalam berusaha, suka tidak suka pasti terkena imbas beban yang tak sedikit akibat terlalu lama tertahan di pelabuhan. Namun, pengusaha dipastikan menaikkan harga penjualan kepada distributor barang dan akhirnya masyarakat menanggung akibatnya di mana harga barang-barang jadi mahal di pasaran,” kata Rivaldi lagi.

Sangat lambannya Pelindo I Tanjungpinang merespon kondisi alur laut yang dangkal dan instansi berwenang tidak memperbaiki dwelling time yang sampai memakan waktu 7 hari di Pelabuhan Batu Enam, menurut Rivaldi, pertanda tidak sungguh-sungguh merespon nawacita dan program Presiden Jokowi yang sangat baik dan bertujuan mulia itu. “Instansi-instansi berkompeten di Pelabuhan Batu Enam itu sangat keterlaluan membiarkan kondisi pelabuhan tak ideal sebagai pelabuhan barang.

Ultimatum Presiden Jokowi untuk semua pelabuhan di Tanah Air seharusnya segera direspon dengan segera membereskan alur laut yang dangkal yang selama ini jadi momok serta memperbaiki dwelling time supaya efisien waktu dan sebagainya yang bersifat merugikan pengusaha dan akhirnya sangat membebani masyarakat,” tandas Rivaldi.

Jika ditelisik keinginan Pelindo I Tanjungpinang yang sangat mengharapkan Pelabuhan Batu Enam bisa diandalkan menopang Pelabuhan Kijang sebagai sarana meneruskan barang kebutuhan pokok warga ke pelabuhan-pelabuhan kecil di Kepri, tentu sangat kontras dengan kondisi Pelabuhan Batu Enam yang sejak lama sangat memprihatinkan dan berkesan dibiarkan. “Seharusnya jangan hanya memprioritaskan pembangunan Pelabuhan Kijang menjadi pelabuhan peti kemas terdepan di Kepri.

Juga harus memprioritaskan pembenahan Pelabuhan Batu Enam secara serius terutama melakukan pengerukan alur laut yang dangkal sehingga kapal-kapal yang masuk dan keluar membawa barang aktivitasnya tak terkendala,” kata seorang pengusaha yang dijumpai Koran ini di Pelabuhan Batu Enam baru-baru ini. Tak kalah penting, kata pengusaha barang sembako ini lagi, harus serius mempersingkat waktu bongkar muat barang yang selama ini memakan waktu 7 hari. “Jika kedua permasalahn ini tak segera dibereskan, maka jangan harap Pelabuhan Batu Enam bisa jadi penyokong Pelabuhan Kijang. Malah akibat kondisi Pelabuhan Batu Enam sangat memprihatinkan, yang merasakan dampak negatifnya adalah masyarakat di mana harus membeli kebutuhan barang-barang pokok dengan harga mahal. Kasihan masyarakat jadi terbebani,” pungkas pengusaha yang tak bersedia disebut namanya ini.(tim)