Politik

Jangan Jadikan Rumah Ibadah sebagai Pemicu Konflik

* Pilkada Jangan Dicemari Konflik Membawa-bawa Agama

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin

infonusantara.co.id, Jakarta – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin angkat bicara soal adanya imbauan larangan mensalatkan jenazah bagi pendukung penista agama. Lukman mengatakan seharusnya rumah ibadah menjadi tempat yang paling aman bagi semua umat.

“Jadi begini, bagaimanapun juga, rumah ibadah adalah rumah Tuhan yang tentu harus kita jaga betul nilai kesuciannya. Rumah ibadah itu rumah yang paling aman bagi semua kita, karena Tuhan menjamin bahwa siapa yang masuk, yang berada di dalamnya itu dijamin, dijaga keamanannya, keselamatannya,” kata Lukman saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (13/3).

Lukman juga mengatakan setiap umat memiliki kewajiban yang sama dalam menjaga kesucian rumah ibadah. “Tidak justru menjadikan rumah ibadah sebagai pemicu munculnya konflik atau pemicu munculnya perselisihan di antara sesama kita,” katanya.

“Apalagi agama itu bahasanya selalu dakwah, mengajak kan, merangkul, mengayomi, bukan malah menafikan atau menegasikan antara sesama kita,” tambahnya. Untuk itu, Lukman mengimbau semua warga bisa meletakkan agama pada tempatnya. “Tentu terkait dengan semakin tingginya sensi politik, karena kita juga sadar betul pilkada semakin di depan mata. Namun saya mengimbau semua, kita, untuk betul-betul menempatkan agama pada tempat yang sebenarnya,” kata Lukman.

Jangan Dicemari Lukman mengimbau agar Pilkada tidak dicemari dengan konflik yang membawa-bawa agama. Agama harus digunakan untuk membangun, bukan untuk berkonflik. Lukman mengaku dirinya banyak didesak oleh masyarakat untuk bersikap terkait masalah tersebut. Namun, dia mengaku dirinya sebagai Menteri Agama ada batasan dalam berbuat.

“Banyak masyarakat yang menuntut saya sebagai Menteri Agama untuk bertindak untuk katakanlah melakukan sanksi, bahkan melakukan tindakan pencopotan spanduk itu, tentu tidak dalam posisi saya,” kata Lukman. Namun, kata Lukman, dirinya sebagai Menteri Agama telah melakukan pendekatan secara persuasif.

Sebab, lanjutnya, agama itu merupakan dakwah, yang sifatnya mengajak. “Bagaimanapun juga, selaku Menteri Agama, pendekatan yang saya lakukan adalah persuasif. Agama itu harus didakwahkan, dan metode dakwah yang terbaik itu adalah mengajak, bukan menggunakan cara-cara kekerasan. Yang boleh menggunakan cara kekerasan hanyalah aparat penegak hukum, karena hanya aparat penegak hukumlah yang mendapatkan mandat oleh regulasi, oleh undang-undang untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan regulasi peraturan,” jelasnya.

Lukman menegaskan, dirinya tidak bisa memberikan sanksi kepada pihak masjid yang memasang spanduk larangan salatkan jenazah tersebut. Dia hanya bisa mengimbau agar masyarakat tidak mencampuradukkan agama ke dalam urusan politik, dalam hal ini Pilkada DKI Jakarta. “Menteri Agama tidak dalam posisi untuk kemudian melakukan tindakan-tindakan misalnya menegur takmir masjid, apalagi memberi sanksi. Karena banyak tuntutan yang muncul di dalam masyarakat pada saya untuk saya memberikan sanksi-sanksi kepada mereka,” katanya.

“Jadi, kemampuan saya adalah mengimbau semua pihak untuk bagaimana pilkada tidak dikotori, tidak dicemari oleh hal-hal yang justru menimbulkan konflik di antara kita dengan alasan-alasan agama. Jadi agama harus digunakan untuk hal yang sifatnya promotif, bukan konfrontatif,” tambahnya. (dtk)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker