KASUBAG PEMBERITAAN DAN PUBLIKASI, NORYENTI : KITA HARUS BERSINERGI, DEMI PEMBANGUNAN NATUNA

FOTO Kasubag Pemberitaan dan Publikasi Setda Natuna Noryenti

FOTO Kasubag Pemberitaan dan Publikasi Setda Natuna Noryenti

TUMPUKAN berkas, tersusun rapi di setiap sudut meja kerja. Di belakang meja, beberapa almari penuh sesak buku-buku tebal. Noryenti, nama pemilik ruangan kerja sempit itu. Meskipun sempit, Yen -biasa disapa- sangat menikmati ruangan. Terlihat ia serius bekerja. Jarinya tidak henti menari-nari di atas papan ketik komputer jinjing. “Ruang kerja lama,” kata istri Eko Heriawan, anggota TNI AL itu. “Terkadang masih suka numpang bekerja di ruang ini.”

Ruang kerja Sub Bagian Sandi dan Telekomunikasi, atau Santel Sekretariat Daerah Natuna. Cukup lama, Yen mendapat amanah di bagian itu. Kini, sekitar empat bulan lalu, ia di percaya Bupati Natuna Abdul Hamid Rizal, dan wakilnya, Ngesti Yuni Suprapti, menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Pemberitaan dan Publikasi Setda Natuna, di bawah naungan Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokoler. “Saya senang dapat amanah di Sub Bagian Pemberitaan,” kata Yen. “Sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah, saya ingin bersinergi dengan media massa, dalam menggerakan roda pembangunan Natuna kedepan,” katanya, sedikit serius berbicara.

Bagaimana kelanjutan wawancara Wartawan Info Nusantara Andi Surya bersama Kasubag Pemberitaan dan Publikasi Setda Natuna Noryenti, Rabu siang 12 April lalu. Hasil wawancara dengan suguhan air putih kemasan itu, bukan hanya berbicara tentang kerjasama publikasi dengan media massa, tetapi berkembang ketopik lain, petikannya :

=============
Di tunjuk sebagai Kasubag Pemberitaan dan Publikasi Setda Natuna, apa tanggapan Anda?
=============

Tentu tantangan tersendiri. Karena Sub Bagian Pemberitaan, saya terlibat langsung dengan rekan-rekan wartawan. Selama ini, saya bertugas di bagian Santel. Lebih banyak berinteraksi sesama pegawai atau atasan. Sub Bagian Pemberitaan sangat beda. Saya harus mampu bekerja baik, demi menjaga amanah dan kepercayaan Pak Bupati dan Bu Wakil Bupati.

===============
Apa tidak merasa berat, sebab tugas Sub Bagian Pemberitaan berinteraksi langsung ke rekan media. Sebagian orang menilai, sulit mengatur awak media?
===============

Saya punya istilah, jangan pernah menyerah, sebelum melakukan suatu pekerjaan. Lalu, kenapa orang lain bisa, saya tidak. Jadi, ketika ditugaskan di Sub Bagian Pemberitaan, saya siap.

Saya pun ingin menepis bahasa, sulit berinteraksi dengan rekan wartawan. Nyatanya, tidak benar. Malahan saya melihat, rekan-rekan wartawan sangat bersahabat. Saya nyaman bertugas. Hanya sebagai wanita, saya punya batasan. Terlihat, sedikit pendiam.

============
Mungkin ada kebijakan baru, kerjasama antara media massa dengan Pemerintah Kabupaten Natuna melalui Bagian Humas dan Protokoler pada 2017?
=========================

Saya rasa belum ada kebijakan baru. Kita masih mengikuti kebijakan lama. Mengevaluasi media cetak maupun elektronik. Kita sebatas mengevaluasi, belum membuat kebijakan apapun.

===============
Apa di evaluasi?
================

Kerjasama antara Bagian Humas sebagai perpanjangan tangan
Pemerintah Kabupaten Natuna dengan media massa. Saya pribadi sangat
apresiasi kinerja rekan-rekan wartawan. Mengingat, sebagian berita terpublikasi tentang pergerakan roda pembangunan daerah.

==========================
Contoh berita tentang pembangunan daerah?
=============================

Salah satu contoh, tentang kegiatan Pak Bupati dan Bu Wakil Bupati. Berita ini sangat bagus. Sebagai referensi bagi masyarakat, bahwa sejak kepimpinan Pak Hamid dan Bu Ngesti, Natuna terus berbenah. Termasuk menjadi penilaian tersendiri bagi pemerintah provinsi dan pusat.

=================
Seandai berita kritikan, apa masuk kategori bagus juga?
=================

Selama kritikan membangun, apa salah. Asal tidak membuat suasana daerah menjadi tidak kondusif. Nanti masyarakat atau daerah, merugi.

===========
Maksudnya?
===========

Saya rasa, Anda tahu maksudnya. Berita apa saja, membuat daerah menjadi tidak kondusif. Begini. Ini pendapat saya pribadi loh. Diumpamakan, suatu daerah itu, satu keluarga besar. Orang tua kita, pemimpin daerah. Ketika di dalam suatu keluarga itu, terjadi pertengkaran. Anak, tidak suka sama orang tua, apa kata tetangga. Memang tetangga tidak akan ikut campur. Tapi bakal menjadi penilaian mereka. Mungkin dalam hati mereka berkata, “Ngapain kita berteman dengan tetangga sebelah. Sering ribut.” Alhasil, kepercayaan tetangga dengan keluarga kita, sangat tipis.

=========
Kesamaan dengan pemerintah daerah?
==========

Kesamaan. Ketika suatu daerah tidak kondusif, akibat isu di hembus diragukan kebenarannya. Jelas daerah tetangga maupun daerah kedudukannya lebih tinggi (pemerintah pusat-red) akan menilai negatif. Yang lebih riskan, pemilik modal swasta akan ragu investasi di daerah tidak kondusif. Siapa merugi. Seluruh masyarakat berdomisili di daerah tidak kondusif.

Maka, kalau boleh saya beri saran. Mari kita sama-sama membangun Natuna. Ciptakan suasana kondusif. Kita keluarga besar Natuna. Ada informasi tentang kebijakan daerah, kurang sedap terdengar, sama-sama kita koordinasi. Pak Kabag Humas (Budi Dharma-red), cukup perhatian dengan rekan-rekan wartawan. Beliau pernah berpesan, “Tolong perhatikan rekan-rekan wartawan.”

Saya sangat sependapat dengan Pak Kabag Humas. Rekan-rekan wartawan termasuk keluarga besar bagi Humas. Sebagai keluarga besar, mari kita sama-sama memberi sumbangsih dalam menggerakan roda pembangunan, melalui keahlian masing-masing. Media publikasi. Humas berusaha memberi kemudahan rekan wartawan bekerja.

============
Bicara perhatian ke media masa, Bupati dan Wakil Bupati juga?
============

Ya. Kedua pemimpin daerah, sangat perhatian dengan rekan wartawan. Beliau berdua sangat mengerti, media massa, termasuk salah satu perpanjangan suara daerah ke provinsi atau pusat.

===========
Bicara media massa, apa pendapat Anda tentang berita plagiat?
=============

Berita plagiat, jelas kurang etis. Sebagai wartawan seharusnya mereka membuat karya jurnalistik sendiri, bukan melakukan plagiat, atau copy berita media massa lain.

=================
Kalau plagiat terhadap advetorial?
======================

Kita lihat dulu. Mengingat geografis Natuna adalah kepulauan.
Keterbatasan anggaran atau transportasi laut, ketika Pak Bupati atau Bu Wakil Bupati melaksanakan kunjungan kerja, terpaksa di bawa dua atau tiga rekan wartawan.

Rekan wartawan tidak ikut kunjungan kerja pemimpin daerah, dapat meminta fotonya, sekaligus pers realis ke Bagian Humas. Berita dari humas ini, tidak masalah dipublikasi.

Namun publikasi jenis galeri atau advetorial, sesuai aturan ditetapkan. Rekan-rekan wartawan harus mengajukan penawaran terlebih dahulu. Apa boleh naik atau tidak? Tidak mengikuti aturan. Galeri atau advetorial tidak di bayar.

==================
Pendapat Anda tentang satu wartawan memegang dua atau tiga media massa?
==========================

Seharusnya satu wartawan bertanggungjawab terhadap satu media massa. Kode Etik Jurnalistik Pasal 2 tertulis, Wartawan Indonesia menempuh cara-cara profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Pada ayat A, dengan penafsiran bahwa : wartawan profesional harus
menunjukkan identitas diri kepada narasumber.

Artinya, sang wartawan harus menunjukan kartu pers saat melaksanakan tugas jurnalistik. Dia dari media A. Tapi jika konfirmasi dari media A, tiba-tiba naik cetak di
media B. Jelas narasumber merasa bingung. Kemarin di wawancara wartawan media A, kenapa naik berita di media B. Dalam kode etik jelas, satu wartawan bertanggungjawab pada satu media, bukan dua atau tiga.

Kemudian, pada ayat G di pasal sama, wartawan profesional tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri. Intinya, kita ingin wartawan bekerja secara profesional, mentaati Kode Etik Jurnalistik dan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Jadi, wartawan profesional, bukan hanya di tuntut bisa menulis, tapi harus paham juga kode etik dan
undang-undang pers.

==================
Atau sang oknum wartawan menggunakan nama orang lain, padahal sudah jelas, media massa itu, dia perwakilannya?
=======================

Kita hanya dapat menghimbau, rekan-rekan media harus bekerja profesional. Cukup, satu wartawan memegang satu media massa. Tapi kalau satu perusahaan ada tiga media massa, itu beda.

===============
Satu perusahaan tiga media, dalam pemberitaan berbeda karya atau tulisan, sebab wartawannya berbeda juga?
=====================

Masyarakat akan menilai, layak atau tidak berita itu di baca. Maksudnya, profesionalisme wartawan itu, masih harus dibenahi. Sekali lagi kita menghimbau, wartawan harus mampu membuat karya jurnalistik sendiri, demi kepentingan masyarakat dan daerah. Seandai tidak mampu, berbesar hati, jangan lagi berkecimpung dalam dunia jurnalistik.

===============
Penilaian Anda soal pemberitaan media massa pada 2016?
==========================

Biarpun saat itu, belum menjadi Kasubag Pemberitaan, saya menilai dari tahun ke-tahun karya jurnalistik rekan wartawan semakin bagus. Namun ada beberapa hal belum maksimal, terutama publikasi tentang pergerakan roda pembangunan daerah. Jadi jangan hanya mempublikasi berita kritikan. Terus terang, saya pribadi sangat suka berita kritikan, apalagi berita kritikan membangun daerah.

==================
Seandai berita dipublikasi, kritikan kepada pemimpin daerah, apa
cukup Bagian Humas di konfirmasi, mengingat kesibukan kerja, pemimpin
daerah itu sulit ditemui?
======================

Kita akan memberi ruang kepada rekan-rekan wartawan berjumpa
pemimpin daerah. Sebab, terkadang kita tidak bisa mewakili pemimpin
untuk di konfirmasi, karena berita kritikan itu, sifatnya pribadi.

Saya menghimbau, agar para Satuan Kerja Perangkat Daerah maupun pihak kecamatan, jika ingin kegiatan terpublikasi, sebaiknya mengirim naskah berita sekalian foto ke Bagian Humas. Agar kita bisa publikasi di Website Humas, atau ke rekan-rekan wartawan.

Satu lagi harapan kita, kalau bisa media massa, terutama media cetak bisa masuk ke-setiap kecamatan, bagaimanapun caranya. Kita
berkeinginan, minat baca masyarakat di kecamatan semakin meningkat,
agar mereka mengetahui perkembangan pembangunan terjadi di Kabupaten Natuna.

=================
Karena Natuna daerah kepulauan, kemungkinan ada cara mudah mengirim koran-koran ke kecamatan?
============================

Di Kota Ranai, kita punya mes kecamatan. Rekan-rekan wartawan bisa mengantar kesana. Tapi, anggaran pengantaran atau pengiriman media, tidak masuk dalam kerjasama dengan Bagian Humas. Rekan-rekan wartawan bisa membuat kerjasama atau mencari
pelanggan dari pihak kecamatan. Kita sangat mengetahui, redaksi atau
perwakilan media massa pasti berharap, medianya menjadi bahan
bacaan diminati masyarakat hingga kepelosok desa.***