Daerah

KM Bukit Raya, Armada Uzur Layari Pulau Perbatasan Indonesia

KM Bukit Raya tersangkut di Karang Neneh

infonusantara.co.id, NATUNA – KM Bukit Raya, armada uzur, melayari Laut Natuna Utara. Lautan terkenal dengan gelombang Musim Utara itu, dahulu bernama Laut Cina Selatan. Biar pun terkenal ganas gelombangnya, Natuna, kabupaten kepulauan perbatasan di tengah negara Asean ini, sarana transportasi laut dan udara tak pernah dianggap penting bagi Pemerintah Republik Indonesia.

Padahal Natuna, salah satu penyumbang devisa negara, dari minyak, gas dan perikanan. Alasan tak di anggap penting, karena transportasi laut dan udara bagi warga di tengah Asean itu, bagai barang langka. Sebab harga tiket penerbangan, cukup mahal.

Yang paling murah meriah, harga kapal laut, satu-satunya harapan, yaitu: KM Bukit Raya. Celakanya, kapal buatan 1994 itu, kini tak bisa melayari Natuna, dengan rute Natuna-Tanjung Priok-Blinyu-Tanjungpinang-Letung-Tarempa-Midai-Serasan-Pontianak-Surabaya.

Penyebabnya, kapal dengan berat 6000 GT itu, “bertengger” di atas Karang Neneh, sekitar perairan Sedanau, Kecamatan Bunguran Barat, Natuna, Jumat 18 Mei 2018. Alhasil, kapal penumpang paling jumbo itu, jika berada di Natuna, sementara waktu tak mungkin beroperasi.

Yang menjadi was-was warga kepulauan ujung utara Indonesia ini, arus mudik Ramadhan serta Idul Fitri 1439 Hijriyah, menjadi mimpi buruk paling menakutkan. Sehingga Presiden Joko Widodo, melalui Kementerian Perhubungan atau Pelni harus segera ambil sikap. Mencari pengganti KM Bukit Raya, sementara waktu naik galangan, diperkirakan terjadi kebocoran di sana-sini, akibat memanjat Karang Neneh.

Bupati Natuna Abdul Hamid Rizal, sebelumnya telah melayangkan surat kepada Pelni melalui Kementerian Perhubungan, agar mengantisipasi lonjakan penumpang mudik lebaran. “Semoga surat kami kirim mendapat tanggapan,” kata Bupati usai memantau KM Bukit Raya di Karang Neneh, Sabtu 19 Mei 2018.

Sedangkan dalam Nawacita Presiden Jokowi -biasa disapa-akan membangun Indonesia, dari pinggiran, kepulauan dan perbatasan. Apalagi presiden ke tujuh itu, beberapa kali berkunjung ke Natuna.

Dalam kunjungan, Presiden Jokowi memprioritaskan pembangunan kabupaten di ujung utara Indonesia ini, pada sektor minyak, gas, perikanan, pariwisata, lingkungan hidup dan pertahanan. Prioritas pembangunan itu akan menjadi sia-sia, jika transportasi laut dan udara kurang memadai. (*andi surya)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker