Kopi Pagi Bersama Letkol Yusuf, Dandim Perbatasan

SUASANA kopi pagi bersama Letkol Yusuf

infonusantara.co.id, NATUNA – Suasana gembira terpancar, ketika kopi pagi (coffee morning) bersama Letnan Kolonel (Inf) Yusuf Rizal, Selasa pagi 21 November 2017. Perwira melati dua itu, pengganti Komandan Komando Distrik Militer 0318/Natuna Letkol Ucu Yustiana, kini dipromosi pada unit strategis di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jakarta.

Turut mendampingi kopi pagi bersama Letkol Yusuf di Kedai Kopi Ranai Square itu, Kepala Seksi Intelijen dan Keamanan Kodim 0318/Natuna Kapten (Inf) Narta, Ketua Komisi I DPRD Natuna Wan Sofyan, serta seluruh awak media kabupaten kepulauan perbatasan di tengah Negara Asean ini.

Sementara fokus utama kopi pagi, Letkol Yusuf ingin berkenalan kepada seluruh masyarakat Natuna, melalui informasi media massa. Karena pergantian Komandan Kodim 0318/Natuna, silahturahmi terjalin erat selama ini antara jajarannya dengan masyarakat, akan tetap berjalan, dan semakin dipererat. Sebab, kata Letkol Yusuf, “TNI AD dari masyarakat untuk masyarakat.”

Wan Sofyan akhulyakin TNI adalah bagian masyarakat. Apalagi kepimpinan Letkol Yusuf di Kodim 0318/Natuna tidak jauh beda dengan Letkol Ucu Yustiana. Dengan program utama Cetak Sawah serta Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD).

“Kita tidak pungkiri, publikasi media massa, sangat efektif,” kata Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Natuna itu. “Dalam mensosialisasikan kegiatan pembangunan.”

Teja, wartawan Natindo.Com menceritakan, masyarakat Natuna, dominan suku Melayu. Masyarakatnya ramah tamah dan senang bergaul. Sehingga Dandim akan cepat menjadi bagian masyarakat kabupaten ini.

“Karakteristik Melayu Natuna, sangat bersahabat dengan masyarakat pendatang,” terang Teja. “Siapa pun tinggal di sini, akan betah,” kata lelaki berasal dari Palembang itu.

Letkol Yusuf menceritakan awal masuk Natuna. Ia mencari informasi tentang kabupaten perbatasan ini. Rupanya, Natuna sangat indah. Dengan pulau-pulau hingga pasir pantainya.

“Natuna sangat cocok tempat wisata bahari,” kata Letkol Yusuf. “Kental budaya Melayu, ramah tamah masyarakatnya,” katanya lagi, sambil menambahkan ia juga sempat berkunjung ke Pulau Penyengat, Tanjungpinang. “Saya di Penyengat, ziarah ke makam Raja – Raja Melayu.”

Letkol Yusuf mengakui, masih keturunan Melayu. Salah satu adat, tidak pernah lupa, permainan gasing dan menyuluh. Sehingga ia berniat, acara tertentu, pakaian militer prajuritnya akan di kombinasikan dengan pakaian adat Melayu. “Dimana bumi di pijak, disana langit kita junjung,” katanya.

Piliang, wartawan Natuna Pos berharap Letkol Yusuf tidak jauh kepimpinannya dengan Letkol Ucu. Selalu dekat dengan masyarakat. Jadi ketika ada gesekan dilapangan, dapat menyelesaikan masalah, tanpa perlu berlarut-larut. “Saya ingin TNI AD bersinergi bersama masyarakat.”

Letkol Yusuf akan berusaha terbaik, agar TNI AD tetap bersinergi bersama masyarakat. Sebab setiap bertugas, ia selalu ingatkan, TNI AD bukan kelompok atau punya kasta berbeda.

“Jika ada gesekan dilapangan, sebaiknya kita lakukan perdamaian secara kekeluargaan,” katanya. “Bagaimana pun, TNI AD bagian dari masyarakat.”

Wan Sofyan meminta masyarakat, agar jangan menggunakan paradigma lama, ketika Natuna masih sebuah kecamatan. Ketika itu terdengar cerita, aparat keamanan dan hukum bertindak arogansi.

“Jika ada gesekan dilapangan antara anggota dengan masyarakat,” sarannya. “Sebelum di publikasi, silahkan awak media berkoordinasi dengan Pak Yusuf atau Pak Narta.”

Fadillah, wartawan Kepri Pos merasa resah, ada sebagian oknum masyarakat menggunakan pakaian loreng tentara. Terkadang oknum itu, pakai kenderaan roda dua, tanpa memakai helm. Maka, Letkol Yusuf bersama jajarannya, melakukan razia disiplin tentang pakaian itu.

“Mungkin yang pakai baju loreng itu, oknum masyarakat. Berbuat ulah tidak bagus, TNI kena imbasnya,” kata Fadillah. “Atau memang oknum anggota TNI sendiri, bawa motor tidak pakai helm.”

Letkol Yusuf akan mencatat informasi ini sebagai bahan masukan, oknum masyarakat memakai pakaian dinas lapangan tentara. Soal tidak pakai helm, memang anggota TNI, ia rasa masyarakat atau wartawan bisa menegur dengan santun.

“Misal, jumpa anggota tidak pakai helm di lampu merah, kita bisa ingatkan,” kata Dandim 0318/Natuna itu. “Maaf Pak, bagus pakai helm. Kasihan anak istri di rumah atau di kampung. Pakai helm bisa melindungi tempat fatal dari kecelakaan jalan raya.”

Erwin, wartawan Riau Global mempertanyakan program TMMD 2018, akan dilaksanakan di kecamatan mana, serta program prioritas apa utama akan dilaksanakan?

“Giat TMMD, kita sedang melakukan peninjauan lapangan,” kata Letkol Yusuf. “Apa prioritas di bangun, tetap pembangunan berbasis kesejahteraan masyarakat kawasan terisolasi.”

Sedangkan tugas utama lanjutan pada tahun ini, menurutnya, Kodim 0318/Natuna akan menuntaskan giat Cetak Sawah. Sebab hanya tinggal tiga puluhan hektar belum selesai.

“Batas akhir 15 Desember depan,” kata Letkol Yusuf. “Saya bersama jajaran optimis, sebelum tanggal itu, program Cetak Sawah akan rampung, sesuai target.”

Letkol Yusuf juga berencana akan membuat giat marathon atau triatlon di kabupaten ini. Giat olahraga ini, secara nasional atau internasional. Dengan giat olahraga, akan terbantu pariwisata Natuna.

“Saya ingin jumpa Kepala Dinas Pariwisata Natuna. Kita ingin menyukseskan giat olahraga ini,” katanya. “Kita bagian dari pihak keamanan, ingin turut mendongkrak pariwisata Natuna.”

Sementara kopi pagi terus berlanjut. Bincang-bincang santai, sambil bersenda gurau. Biar pun sambil bersenda gurau, perbincangan tetap mengarah, bagaimana mendukung pergerakan roda pembangunan kabupaten di ujung utara Indonesia ini.” (*andi surya)