Lagi, Warga Indonesia Keluhkan Pemeriksaan Ketat Imigrasi Singapura

Antrian Pasporinfonusantara.co.id, Singapura – Negara tetangga Singapura merupakan tujuan utama bagi warga Kepri khususnya dari Batam, Tanjungpinang dan Tanjungbalai Karimun, setiap ada tangal merah pada hari besar keagamaan, maupun libur panjang sekolah. Pengamatan wartawan media ini di beberapa pelabuhan internasional pada hari-hari libur, dipadati masyarakat yang akan menyeberang ke Negara tetangga Singapura dan Malaysia. Misalnya saja, pada liburan tanggal merah hari besar keagamaan kenaikan Yesus Kristus atau Isa Almasih dan berlanjut Israk Mikraj Jumat (6/5) besoknya, merupakan libur panjang dimanfaatkan ribuan waga Batam untuk berlibur ke Singapura. Beberapa pelabuhan internasional Batam, seperti pelabuhan Batam Centre, dipadati ratusan warga yang akan berangkat setiap setengah jam ke ke Singapura.

Hanya saja, seperti yang pernah diekspos media ini awal Januari 2016 lalu seputar ketatnya pemeriksaan paspor warga asing, termasuk dari Indonesia oleh petugas Imigrasi Singapura setelah sampai di pelabuhan Negara singa itu, bisa membuat stress dan kesal. Ketatnya pemeriksaan paspor warga asing oleh petugas Imigrasi Singapura sebenarnya bukan hanya saat ini saja. Tetapi sudah berlangsung sejak belasan tahun lalu, apalagi setelah peristiwa   penabrakan pesawat menara kembar World Trade Center Washington DC Amerika Serikat 11 September 2001 silam. Diperparah kemudian peristiwa bom Bali Oktober 2002 lalu, membawa dampak semakin ketatnya pemeriksaan warga asing yang masuk ke Singapura. Khusus peristiwa 11 September 2001 itu, bahkan kontan saja nama pelabuhan World Trade Centre Singapura berubah nama menjadi Harbour Front Centre.   Ketatnya pemeriksaan paspor warga asing, memang membuat seseorang kesal dan stress apalagi jika sampai dipulangkan, tidak di ijinkan masuk otoritas setempat   dalam hal ini petugas Imigrasi untuk masuk Singapura. Pemulangan yang kerap terjadi oleh petugas Imigrasi di konter-konter pemeriksaan paspor memang kerap terjadi, khusus bagi warga Indonesia di pelabuhan Harbour Front Centre.

Alasan penolakan masuk ke Singapura atau pemulangan warga Indonesia oleh petugas Imigrasi, menurut   pengamatan media ini, terutama saat ditanyai petugas Imigrasi, kemungkinan disebabkan jawaban yang tidak memuaskan atau gerak gerik yang mencurigakan. Bisa-bisa juga disebabkan uang yang dibawa tidak memadai untuk ukuran Negara singa itu saat ditanya berapa uang yang dibawa apalagi jika pertama sekali masuk Singapura. Seperti yang terjadi Jumat (6/5) 2016 di pelabuhan Harbour Front Centre Singapura, ada beberapa warga Indonesia yang ditolak masuk ke Singapura dan akhirnya dipulangkan ke Batam. Dari pengamatan media ini yang sudah masuk Singapura sejak tahun 1996 lalu, pemeriksaan paspor warga asing terutama warga Indonesia terkesan berlebihan dan curiga yang besar. Hal ini terjadi sejak tahun 2001 lalu sampai sat ini, sedemikian ketat diberlakukan   dalam setiap pemeriksaan paspor jika seseorang berkunjung ke Singapura.

Ironisnya, rekan-rekan dari media ikut kena getahnya. Dibandingkan tahun 90-an, saat ini tak bisa lagi sebebas dan segampang dulu memasuki Singapura.   Bahkan bisa jadi bumerang bagi rekan media yang membawa-bawa nama media saat akan ditanyai petugas Imigrasi. Sebab jika rekan dari media mengaku sebagai jurnalis atau reporter, akan ditanyai apakah sudah ada ijin meliput di Negara itu. Kemudian petugas Imigrasinya akan menelepon Embassy Indonesia atau KBRI apakah memang mengjinkan seorang reporter itu meliput disana (KBRI maksudnya-red).. Syukur   jika KBRI Singapura mau memberikan sudah ada ijin. Sebab, rekan media kerap menyebut tujuannya ke Indonesia Embassy lengkap dengan alamatnya di 7 Chatsh road Singapura. Namun ketika ditanya langsung petugas Imigrasi   Singapura melalui telepon, Indonesia Embassy atau KBRI, malah KBRI memberikan jawaban bahwa si reporter Indonesia itu tidak dikenalnya dan semuanya diserahkan kepada kebijakan Imigrasi Singapura apakah diijinkan masuk atau tidak. Artinya pihak KBRI tidak tahu menahu tentang kedatangan media dari Indonesia sehingga sepenuhnya diserahkan kepada kebijakan petugas Imigrasi Singapura, apakah diijinkan masuk atau ditolak.

Berdasarkan jawaban pihak KBRI itu juga, maka rekan media itu dipulangkan dan ditolak masuk ke Singapura oleh petugas Imigrasi. Sekilas jawaban pihak KBRI itu tidak salah kendati ada rekan media, dinilai tidak manusiawi dan tidak nasionalis membiarkan warganya dipulangkan dari Singapura.   Memang jika disimak, jawaban pihak KBRI adalah bisa benar bisa juga   tidak, tergantung dari sisi mana menilai. Sebab, rekan media yang akan menuju KBRI sebelumnya memang tidak memberitahukannya kedatangannya ke KBRI. Apalagi saat ini, jumlah yang mengaku wartawan sangat banyak.   Sebagai saran dan masukan kepada rekan media yang akan berkunjung ke Singapura dan bertujuan ke KBRI tidak perlu mengaku jurnalis atau reporter dan tujuan ke KBRI, karena akan banyak pertanyaan-pertanyaan. Kecuali memang ada undangan resmi dari pihak KBRI dan ada pejabat yang dikenal betul di KBRI yang bisa dan bersedia dikontak saat tiba di Singapura.   Ketatnya pemeriksaan setelah sampai di pelabuhan Singapura, memang sudah merupakan kebijakan Negara kota pulau itu untuk memproteksi negaranya dari segala macam gangguan keamanan. Sumber daya alam yang tidak ada selain hanya mengandalkan sektor jasa dan pariwisata, mau tidak mau membutuhkan pengamanan yang ekstra ketat agar Negara itu stabilitas keamannya tetap terjamin sepanjang masa.

Kecewa karena ditolak masuk ke negara itu, sah-sah saja. Agak menarik memang,   ada beberapa media memberitakan miring perlakukan petugas Imigrasi Singapura yang disebut tidak manusiawi dan berlaku diskrimanatif terhadap warga Indonesia. Namun bagaimanapun, hal itu sudah merupakan kebijakan pemerintah Singapura yang tidak bisa dicampuri negara manapun. Tinggal sekarang berpulang kepada seseorang saat ditanyai petugas Imigrasi negara itu di konter pemeriksaan paspor, dapat memberikan jawaban yang meyakinkan, terutama menjelaskan, bahwa keberadaannya di Singapura hanya sebagai wisatawan yang akan pulang hari itu juga. Bisa juga menjelaskan beberapa hari asal membawa uang secukupnya untuk ukuran negara itu. (Arifin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *