Breaking NEWS
21 August 2018

Langkah Bupati di Pulau Natuna Selatan

BUPATI (tengah) saat baru tiba di Pelabuhan Midai

Kepri diskriminasi, Natuna harus jadi provinsi. Agar DBH Migas Natuna, tetap milik rakyat Natuna – Anambas.

infonusantara.co.id, NATUNA – Hari belum tinggi, Ahad 15 April 2018. Embun pagi, masih terasa. Namun Abdul Hamid Rizal telah berada di Pelabuhan Penagi, Ranai, Natuna. Turun dari mobil pribadi, Bupati Natuna Periode 2016 – 2021 itu, bergegas naik kapal cepat MV Indra Perkasa, milik Pemerintah Kabupaten Natuna.

Rupanya jadwal pagi itu, Hamid akan kunjungan kerja ke Midai. Salah satu kecamatan di ujung negeri kabupaten kepulauan perbatasan di tengah Negara Asean ini. Kecamatan, dari beberapa kecamatan lain, bakal menjadi kabupaten baru, yaitu: Kabupaten Natuna Selatan.

Sebelum kunker ke Midai, Ketua DPW PAN Kepulauan Riau (Kepri) itu, menginjakan kaki ke Pulau Laut. Kecamatan, perbatasan negara Vietnam. Ya, Natuna memiliki kecamatan – kecamatan rawan di caplok negara tetangga, semisal, Serasan, perbatasan Sematan, Malaysia.

Kabupaten kaya sumber daya minyak, gas, perikanan dan pariwisata itu, bagai bunga desa cantik lirikan para kumbang jantan tetangga. Yang ingin mengisap sari madunya. Tapi biar pun bagai bunga desa cantik, Natuna terabaikan. Sang pemilik terus mengambil sari pati. Meski sari pati sang bunga tak pernah habis di telan zaman.

Nurhayati, istri Bupati menyalami warga saat tiba di Pelabuhan Midai

Tiga jam berlalu. MV Indra Perkasa merapat di Pelabuhan Midai. Tampak berbaris mengular, puluhan warga berbagai strata. Dari pejabat, tokoh masyarakat hingga anak-anak sekolah. Mereka antusias atas kehadiran Hamid Rizal. Namun Hamid tak sendiri, ia bersama istri tercinta, Nurhayati, beserta sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Natuna.

Antara lain, Sekretaris Daerah Natuna Wan Siswandi. Kepala Dinas Perhubungan Natuna Iskandar DJ. Kepala Dinas Pekerjaan dan Tata Ruang Natuna Tasrif. Kepala BPPPD Natuna Mustapa Albakry. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Natuna Dodi Nuryadi. Kepala Bagian Umum Setda Natuna Suhardi. Kepala Bagian Humas dan Protokoler Setda Natuna Budi Dharma.

Sementara MV Indra Perkasa tertambat. Tanpa protokoler ketat, Hamid menginjakan kaki di pelabuhan. Camat Midai Tri Didik Sisworo dan Camat Suak Midai Idris bersama warga menyambut. Satu persatu Hamid bersama istri, menyalami.

Canda Hamid pada penyambut terdengar. Terutama saat menyalami pelajar sekolah dasar. “Harus rajin pull up, biar badan tinggi,” guraunya, melihat beberapa pelajar terlihat mungil. “Jangan malas olahraga, agar badan sehat.” Pelajar itu, tersenyum senang.

BUPATI menyalami Camat Midai dan Camat Suak Midai

Kembali Hamid melangkah. Kenderaan roda dua dipersiapkan para penyambut, tak dipergunakan. Bupati Natuna dua periode itu, terlihat mau berjalan kaki menuju Pasar Midai. Warga sedang belanja dan ngopi, di sapa dan disalami. Merata, hingga ke para pedagang pasar. Wajah warga bersalaman dengan Hamid, sangat senang.

Satu persatu nama warga kecamatan kepulauan perbatasan Malaysia Timur itu, di kenalnya. Dari anak-anak hingga orang dewasa. Tawa bersama, terdengar. Tak terlihat lelah dari raut wajah orang nomor satu di kabupaten kepulauan di tengah negara Asean ini.

Padahal Hamid berangkat mengarungi Laut Natuna Utara dari Kota Ranai, ibukota Kabupaten Natuna, embun subuh masih belum berlalu. Tiga jam, waktu tempuh. Usai menyalami warga, Hamid beserta rombongan istirahat sebentar di bangku plastik depan rumah salah satu warga.

Tak lama berselang, warga datang. Bincang-bincang sebentar, ia pun meneruskan agenda, temu ramah dengan warga Midai dan Suak Midai di Gedung Serbaguna Midai.

BUPATI menyalami warga Pasar Midai

Dalam sambutan pembukaan, Hamid menegur beberapa warga bergerak lalu lalang ketika Lagu Indonesia Raya berkumandang. Bukan hanya teguran pelaku lalu lalang, ia juga menegur para kru foto.

“Lagu Indonesia Raya sangat sakral. Para pahlawan berjuang dengan mengeluarkan darah dan air mata. Agar lagu itu bisa dinyanyikan di Indonesia. Kita harus hargai jasa pahlawan, dan lagu bangsa kita,” tegas Hamid, sambil memperkenalkan satu persatu rombongannya, dari unsur kepala OPD Natuna.

Menurut Hamid, kepala OPD Natuna di tunjuk, sesuai kompetensi. Jadi bukan dari kecamatan tertentu. “Biar pun Mamak saya orang Midai,” katanya. “Saya jadi bupati, tak otomatis pejabat Midai diutamakan.”

Hamid menceritakan tugas luar dilakukannya, demi mendapat anggaran pemerintah pusat. Dengan tugas luar itu, maka ke-esokan hari, ia harus berangkat ke Kota Batam.

BUPATI berfoto bersama warga Midai

Di kota industri itu, Hamid akan rapat bersama Dirjen Cipta Karya. “Dalam rapat itu saya harus hadir. Mereka ingin Bupati-nya datang,” tegasnya. “Kita akan membahas pembangunan embung di beberapa kecamatan dilaksanakan Kementerian.”

Setelah rapat di Batam, ia akan berangkat ke Jakarta, lalu ke Sulawesi. Dari Sulawesi berangkat ke Jogja. Dari Jogja, kembali ke Kota Ranai. “Jika tak ada tugas luar,” katanya. “Saya ingin berkeliling ke kecamatan se-Natuna.”

Hamid sangat sepaham dengan kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo. Membangun di mulai dari daerah perbatasan dan kepulauan. Supaya warga perbatasan dan kepulauan tak tertinggal dari daerah lain.

Tak ketinggalan ia merasa bangga dengan Wan Siswandi, Sekda Natuna. Ketika masih menjabat Kadishub Natuna mampu melobi ke pemerintah pusat, sehingga Midai, Pulau Laut, Subi dan Serasan terbangun pelabuhan perintis.

SAMBUTAN Bupati saat di Gedung Serba Guna Midai

Dengan terbangun pelabuhan perintis, warga kecamatan tak perlu lagi naik kapal di tengah laut, jika ingin naik KM Bukit Raya. “Pelabuhan Serasan dan Midai sudah sandar KM Bukit Raya,” terang Hamid. “Tinggal Pelabuhan Subi dan Pulau Laut belum selesai di bangun.”

Cikal bakal pembangunan pelabuhan perintis kecamatan ini, pernah Hamid usul ketika ia menjadi bupati pertama (2001-2006). “Mamak saya orang Midai. Pernah berpesan, jika jadi Bupati Natuna, memperjuangkan pembangunan pelabuhan itu,” katanya. “Alhamdulillah, menjadi Bupati 2016-2021, pembangunan pelabuhan itu terwujud.”

Hamid juga menyorot tentang kebijakan Gubernur Kepri Nurdin Basirun. Menurutnya, Natuna pemilik ladang migas di laut. Dari belasan ladang migas, sebagian telah di kelola perusahaan berbagai negara, salah satu Amerika. Ladang migas terbesar, belum di kelola, Blok East Natuna, dahulu Blok D Alpha Natuna.

Celakanya, meski pemilik ladang migas, nasib Natuna sungguh mengenaskan. Dengan kebijakan baru, Pemerintah Kabupaten Natuna hanya bisa mengelola wilayah hingga di tepi pantai. Tepi pantai ke-laut, hak Pemerintah Provinsi Kepri dan Pemerintah Republik Indonesia.

BUPATI ziarah kubur datuknya

Alhasil, Dana Bagi Hasil Migas Natuna, menjadi jatah Pemerintah Provinsi Kepri. “Sekitar Rp1,8 triliun setahun, masuk APBD Kepri,” katanya saat pertemuan di Gedung Serba Guna Kecamatan Midai. “Natuna, pemilik migas hanya di beri jatah sekitar Rp6 milyar.”

Yang Hamid kurang setuju, Tanjung Balai Karimun, kampung halaman Gubernur dapat jatah migas Natuna, sekitar Rp200 milyar. Karena kabupaten itu dapat jatah migas Natuna terbesar, saat musrenbang provinsi, anggarannya ditutupi, alias tak di tayang.

“Lucu, di musrenbang provinsi, kabupaten dan kota se-Kepri di tayang anggarannya,” kata Ketua DPW PAN Kepri itu. “Hanya Karimun ditutupi, ada apa ini?” katanya lagi, sambil menambahkan, untung ia tak ada di tempat dalam pembahasan itu.

Jika hadir dalam pembahasan, Hamid akan mempertanyakan, kenapa perbedaan cukup mencolok. “Jangan kan pembagian anggaran migas, pembagian sapi kurban saja tak adil,” tegasnya. “Bagaimana adil, Natuna dapat 4 ekor, Karimun 72 ekor. Nasib Natuna, sama dengan kabupaten dan kota se-Kepri, kecuali Karimun.”

BUPATI memantau Pelabuhan Perintis Midai

Jadi Hamid berkeinginan, Natuna dimekarkan menjadi provinsi khusus. Agar Natuna, dapat mengelola anggaran migas sekitar Rp1,8 triliun pertahun itu. “Saya akan ajak Anambas bergabung,” ungkapnya. “Kita bentuk Provinsi Khusus Natuna – Anambas.”

Dengan mekar menjadi provinsi, kata Hamid, maka akan terbentuk Kabupaten Natuna Selatan dan Kabupaten Natuna Barat. Anggaran migas Rp1,8 triliun, akan di bagi ke dua kabupaten baru itu.

“Terbentuk provinsi, masyarakat Natuna – Anambas akan makmur. Lapangan kerja terbuka lebar,” tuturnya. “Kajian pemekaran provinsi telah lama saya siapkan, tinggal tandatangan seluruh elemen masyarakat agar bisa kita ajukan ke pemerintah pusat.”

Gubernur Kepri Nurdin Basirun hingga berita dipublikasi, belum di konfirmasi. Kenapa Gubernur asli Karimun itu, tak adil membagi anggaran ke kabupaten dan kota se-Kepri, kecuali Karimun.

SAMBUTAN Bupati Halal Bihalal di Masjid Az-Zuriat Suak Midai

“Saya pernah bergurau dengan Pak Gubernur. Saya bilang, masyarakat menilai, Bapak sebenarnya Gubernur Kepri, atau Gubernur Karimun,” tanya Hamid. “Pak Gubernur membantah.”

Camat Midai Tri Didik Sisworo dalam sambutan mengucapkan rasa syukur, KM Bukit Raya sandar di Pelabuhan Midai. Dengan sandar di pelabuhan, warga terbantu, baik dari segi keselamatan hingga keuangan. “Semoga semua berjalan lancar,” katanya, sambil menambahkan, nanti malam akan dilaksanakan Halal Bihalal di Masjid Az-Zuriat Suak Midai.

Sebelum Halal Bihalal di Masjid Az-Zuriat Suak Midai, Hamid bersama Wan Siswandi, Sekda Natuna, ziarah ke kubur Datuk, Hamid. Dalam perjalanan menaiki kendaraan roda dua, Wan Sis -biasa di sapa- di bonceng Hamid. Sehingga tak ada perbedaan atau tinggi jabatan bagi Hamid Rizal.

Sore menjelang, Hamid bersama istri, Nurhayati beserta rombongan dengan menaiki mobil pick up menuju ke Masjid Az-Zuriat Suak Midai. Terpaksa naik mobil pick up, hujan berkah menyapa. Di masjid sekitar delapan kilometer dari kota Midai itu, akan dilaksanakan halal bihalal.

BUPATI saat tiba di Pelabuhan Penagi dari Midai

Wan Sis tak mau ketinggalan. Meski pun hujan lebat, ia tetap hadir. Termasuk sejumlah warga Suak Midai. Sembahyang Magrib bersama, Temu ramah, ceramah agama, menjadikan halal bihalal mengikat tali silahturahim antar sesama.

Ke-esokan subuh, Senin 16 April 2018. Hamid dan rombongannya, dengan berjalan kaki menuju MV Indra Perkasa tertambat di Pelabuhan Midai. Pertemuan dan perpisahan tak bisa di elak. Lambaian tangan Camat Midai Tri Didik Sisworo dan Camat Suak Midai Idris, bersama para istri dan warga sebagai salam perpisahan.

Kelak lambaian tangan itu, akan menjadi salaman. Karena Hamid akan kembali kunker ke Midai dan Suak Midai. Mengingat membangun negeri perbatasan kepulauan, tak semudah seperti provinsi, kabupaten atau kota lain se-Indonesia, yang negerinya satu daratan. Natuna, perlu biaya dan tenaga lebih, membangun negeri. (*andi surya)