Daerah

LANTAI RAPUH PELABUHAN SUBI

infonusantara.co.id, RANAI – Video berdurasi 1,58 menit itu, dikirim Amrullah melalui layanan Bluetooth ke ponsel Info Nusantara, Selasa 22 November 2016. Video bercerita tentang hasil pantauan kondisi lantai proyek pembangunan Pelabuhan Subi. Dalam video, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Natuna Marine Ecoregion, Indra Praja menguji kualitas lantai pelabuhan. Dengan cara mengetuk-ngetuk satu sudut lantai pelabuhan.

Ujung lantai diketuk menggunakan kayu bulat dan pendek digenggaman tokoh pemuda Subi itu, dengan kekuatan sedang, semen lantai pun hancur. Semen hancur atau kekuatan diragukan sebagai lantai yang kelak menjadi beban pelabuhan untuk menahan barang, orang dan gelombang. “Sekitar 100 meter lantai pelabuhan terbangun,” tulis Amrullah melalui pesan singkat, Kamis 1 Desember 2016. “Saat saya merekam melalui ponsel, lantai baru terbangun sekitar 40 meter,” tulis mantan wartawan Kota Ranai, Ibukota Kabupaten Natuna itu, lagi.

Usai merekam kualitas lantai, video beralih ke tumpukan kerikil. Video di rekam Amrul -biasa disapa itu- terlihat seseorang mengambil satu kerikil warna biru muda. Lalu, video beralih menyorot pasir merah, diduga sebagai campuran semen. “Bukan hanya kualitas semen, bahan campurannya, seperti kerikil dan pasir, kita ragu mutunya,” tulis Amrul. “Yang perlu digaris bawahi, tiang pancang terbangun sekitar 2 kilometer, sekitar 300 meter belum ditanam,” tulis Amrul lagi, sambil menambahkan, tiang belum ditanam, dibiarkan berserak terendam air laut, sekitar pantai.

Proyek pembangunan Pelabuhan Subi -edisi sebelumnya- Info Nusantara telah publikasi. Proyek pelabuhan dibangun rada ganjil, dari tiang pancang hingga lantai, dimulai dari laut ke darat itu, dilaksanakan secara bertahap (tahun 2013, 2014, 2015 dan 2016-red). Jadi proyek dilelang setiap tahun oleh Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Otomatis, tiap tahun berbeda kontraktornya.

Menurut masyarakat Subi, tutur Amrul, tahap pertama dibangun dengan anggaran sekitar Rp5,7 milyar. Jenis pekerjaan, membangun tiang pancang. Tahap kedua, tidak diketahui, siapa kontraktornya, anggaran serta jenis pekerjaan. “Anggap saja, tahap kedua, pekerjaan siluman,” kata Amrul. “Saya tanya masyarakat Subi, tidak ada yang tahu, tentang pembangunan proyek tahap kedua itu.”

Pekerjaan tahap ketiga, tidak diketahui kontraktornya. Anggaran sekitar Rp59 milyar. Jenis pekerjaan, pembelian bahan material pelabuhan. Tahap ke-empat, kontraktornya, PT Pilar Dasar Membangun. Anggaran sekitar Rp16 milyar. Kontraktor itu akan membangun lantai pelabuhan.

Dalam membangun lantai, kontraktor sempat menggunakan air laut, sebagai campuran semen. Tetapi, setelah masyarakat protes, kembali kontraktor menggunakan air tawar. “Proyek tahap empat ini, baru selesai 40 persen,” tegas Amrul.

Foto papan plang tahap empat, tertulis : proyek dari Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III. Pekerjaan : Pembangunan Fasilitas Pelabuhan Laut Subi Tahap IV (empat-red). Lokasi : Pulau Subi, Kepulauan Riau. Tahun Anggaran : 2016. Sumber Dana : APBN.

Nomor Kontrak : PL.106/1/5/SBI/UPP.TPA.2016. Nilai Kontrak : Rp16.995.170.000. Kontraktor : PT Pilar Dasar Membangun. Konsultan : CV Bangun Bina Bersama. Celakanya, tidak tertulis, kapan proyek mulai dikerjakan, dan berapa lama pengerjaannya. “Proyek belum jelas mutunya itu,” kata Amrul. “Telah menghabiskan anggara negara, dengan total seratusan milyar rupiah.”

Sementara Subi, salah satu kecamatan berada diperbatasan Indonesia, dibawah naungan Kabupaten Natuna. Subi, kecamatan yang hanya dapat ditempuh melalui jalur laut, sekitar delapan jam dari Kota Ranai. “Wajar proyek pembangunan Pelabuhan Subi dikerjakan asal-asalan,” kata Amrul. “Wilayahnya cukup jauh dari pantauan LSM atau media massa,” timpal Indra Praja. (*andi surya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker