Dunia

Mesir Nyatakan Tiga Hari Berkabung Nasional

Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi
Presiden Mesir, Abdul Fattah al-Sisi

infonusantara.co.id, Kairo – Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi, Senin, 12 Desember 2016 menyatakan tiga hari berkabung nasional setelah sedikitnya 25 orang meninggal dunia dalam serangan bom di Katedral Koptik, Kairo. Seperti dilaporkan BBC, Senin, (12/12) Presiden al-Sisi menyebut serangan yang terjadi pada Minggu tersebut sebagai aksi teroris keji sekali dan berjanji untuk mengadili pihak-pihak yang terlibat. “Terorisme keji tengah dilancarkan terhadap umat Koptik dan Muslim. Mesir akan menjadi negara yang lebih kokoh dan lebih bersatu akibat dari situasi ini,” ujar Sisi seperti dikutip BBC.

Dilaporkan, ledakan terjadi di kapel di samping katedral dalam Misa Minggu yang dihadii banyak warga Mesir. “Saya menemukan mayat, banyak di antaranya adalah perempuan, tergeletak di bangku gereja. Pemandangannya mengerikan,” kata petugas katedral Attiya Mahrous.

Minoritas Kristen di Mesir sering menjadi sasaran serangan kelompok ekstremis di Mesir. “Ini merupakan tusukan di setiap jantung rakyat Mesir. Insya Allah, rakyat Mesir akan memberantas terorisme dan kita akan memotong tangan-tangan dari para pengkhianat teroris. Dengan satu suara, kita tekankan bahwa terorisme brutal ini harus dienyahkan,” tegas Menteri Agama Mukhtar Gomaa.

Sementara itu, Polisi menyebutkan bahwa bom tersebut berjenis TNT seberat 12 kg yang diletakkan di samping gereja yang saat itu dipenuhi jemaat perempuan. Hal ini membuat mayorita skorabn tewas dan terluka adalah wanita. Selain 25 orang tewas, 49 lainnya terluka. Dilansir Reuters, Senin, pemimpin Gereja Koptik Mesir Paus Tawadros mengatakan bahwa serangan bom tersebut bukan hanya bencana bagi Gereja, melainkan juga bencana bagi negeri Mesir. “Mereka yang melakukan serangan tersebut tak pantas disebut warga Mesir, kendati mereka hidup di Mesir,” ujarnya menambahkan.

Sejumlah korban yang selamat mengatakan bahwa petugas keamanan saat insiden itu terjadi tak melakukan pemeriksaan seperti biasanya. Pasalnya, saat itu banyak warga yang melakukan Misa Minggu. “Banyak sekali jemaat yang datang sehingga petugas tak melakukan pemeriksaan. Padahal, biasanya selalu ada pemeriksaan terhadap setiap orang yang memasuki gereja,” ujar warga Mesir Mina Francis yang ibundanya meninggal dalam serangan bom di Gereja Koptik terbesar di Mesir tersebut. (PR)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker