Breaking NEWS
19 April 2018

Pakar IPB: Cacing pada Ikan Makarel Kaleng Akibatkan Kanker

Foto istimewa

infonusantara.co.id, BOGOR – Pakar Fisheries Toxicology dari Fakultas Perikanan dan llmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Etty Riani menegaskan, cacing ditemukan pada ikan makarel pada 27 merek ikan kaleng yang beredar luas di Indonesia, merupakan jenis cacing parasit dapat menimbulkan alergi bahkan mengakibatkan penyakit kanker.

“Larva dan cacing ditemukan hidup pada ikan dalam 27 merek ikan kaleng seperti dirilis BPOM, bukan termasuk jenis cacing berprotein, tapi jenis parasit dan racun penyebab kanker,” kata dosen Fakultas Perikanan IPB ini, Kamis, 5 April 2018, dilansir dari Tempo.co.

Dia mengatakan larva dan cacing kecil ditemukan berkembang biak pada ikan makarel dalam 27 produk ikan kaleng ini merupakan cacing jenis Anisakis Simplex, salah satu jenis cacing parasit dapat berubah menjadi racun penyebab alergi dan kanker. “Cacing jenis ini biasanya ditemukan pada ikan produk impor bukan ikan asal Indonesia, karena cacing A. Simplex ini hidup di perairan dengan empat musim,” katanya.

Berdasarkan sejumlah literatur dan jurnal ilmiah, Etty menjelaskan, sampai saat ini jenis cacing A. Simplex belum pernah ditemukan di perairan Indonesia. Larva cacing Anisakis dapat memakan organ ikan hering di Norwegia. “Di negara kita belum ditemukan, dan biasanya jenis cacing ini hidup dalam ikan impor dikemas dalam kaleng,” terangnya.

Menurut Etty, telur dan larva jenis cacing A. Simplex ini bisa hidup pada ikan makarel sudah mati (olahan), juga dapat berkembang biak pada mamalia termasuk manusia.

“Larva ini hidup pada ikan sebagai inang. Jika telur-telur cacing menempel pada ikan dikonsumsi, dapat berkembang biak juga dalam tubuh manusia,” katanya.

Dia mengatakan, pada kasus ditemukan cacing dalam 27 merek ikan kaleng beredar di masyarakat, sudah seharusnya menjadi perhatian pemerintah agar menyikapi. Karena dapat berpengaruh pada masyarakat untuk mengkonsumsi ikan.

“Pemerintah mestinya tidak boleh mengabaikan kasus ini, karena dapat berpengaruh pada pembangunan sektor perikanan sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

Etty pun berharap agar pemerintah serius dalam kebijakan mitigasi cepat mencakup perlunya kerja sama hulu-hilir sebagai usaha pengetatan persyaratan penanganan ikan sesuai standar mutu keamanan pangan ikan (food safety) yang diimpor dari berbagai negara khususnya Cina.

“Kami menduga semua ikan digunakan dalam produk ikan kemasan kaleng diproduksi perusahaan nasional pun menggunakan ikan impor karena menggandung cacing A. Simplex, sedangkan di Indonesia belum ditemukan,” kata dia.

27 Merek Makarel Kalengan Positif Mengandung Cacing

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM Penny Lukito telah mengumumkan 27 merek produk ikan makarel positif mengandung parasit cacing. Ke-27 merek itu terdiri atas 138 bets ikan makarel kalengan.

“Sebanyak 16 merek di antaranya merupakan impor dan 11 lain merupakan produk lokal,” ujarnya saat acara konferensi pers di gedung BPOM, Jakarta, Rabu, 28 Maret 2018.

Berdasarkan data BPOM pada 28 Maret 2018, berikut daftar nama produk ikan makarel kaleng ditemukan mengandung cacing:

Merek ABC (produk lokal), dengan tiga nomor izin edar dalam jenis saus tomat, saus ekstra pedas, dan saus cabai.

Merek ABT (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek AYAM BRAND (produk impor), dengan tiga nomor izin edar dalam jenis saus tomat, goreng, dan saus padang.

Merek BOTAN (produk lokal), dengan empat nomor izin edar dalam jenis saus tomat.
Merek CIP (produk lokal), dengan dua nomor izin edar dalam jenis saus tomat dan saus ekstra pedas.

Merek DONGWON (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis larutan garam.

Merek DR.FISH (produk lokal), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek FARMERJACK (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek FIESTA SEAFOOD (produk lokal), dengan tiga nomor izin edar dalam jenis saus tomat, saus cabai, dan saus balado.

Merek GAGA (produk lokal), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat dan cabe.

Merek HOKI (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek HOSEN (produk impor) , dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek IO (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek JOJO (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis dalam saus tomat.

Merek KING’S FISHER (produk lokal), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek LSC (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek MAYA ( produk lokal), dengan empat nomor izin edar dalam dua jenis saus tomat dan dua saus cabai.

Merek NAGO/NAGOS (produk impor), dengan dua nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek NARAYA (produk impor), dengan dua nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek PESCA (produk lokal), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek POH SUNG (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek PRONAS (produk lokal), dengan dua nomor izin edar dalam jenis saus pedas dan saus tomat.

Merek RANESA (produk lokal), dengan dua nomor izin edar dalam jenis saus tomat dan cabai.

Merek S&W (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis larutan garam.

Merek SEMPO (produk impor), dengan dua nomor izin edar dalam jenis original dan larutan garam.

Merek TLC (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

Merek TSC (produk impor), dengan satu nomor izin edar dalam jenis saus tomat.

BPOM telah menginstruksikan pemberhentian proses impor sementara terhadap produk-produk makarel kalengan terbukti mengandung parasit cacing itu. Pemberhentian impor ini dilakukan hingga ada audit dan pengujian sampel lebih besar lagi.

Sementara untuk produk dalam negeri, Kepala BPOM Penny Lukito menyatakan telah ada instruksi agar produsen menyetop impor bahan baku dari luar negeri. “Instruksi itu ditujukan kepada produsen dan importir untuk melakukan penarikan seluruh produk mereka dari pasar,” ujarnya. (*andi surya)