Breaking NEWS
20 April 2019

Pekerja di Jateng Didominasi Lulusan SD

BURUH TERANCAM PHK. Sejumlah buruh pabrik tekstil tengah mengerjakan pakaian di PT. Sandang Asia Maju Abadi, Semarang, Rabu (8 Juli 2015). Krisis ekonomi dunia yang belum juga berakhir, jelang Lebaran buruh di Jawa Tengah terancam PHK. Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Kependudukan Provinsi Jawa Tengah mencatat, buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) selama 2015 sudah mencapai 1.091. KORAN SINDO/Budi Arista Romadhoni

infonusantara.co.id, Semarang – Pekerja di Jawa Tengah masih didominasi lulusan sekolah dasar ke bawah dengan persentase sebesar 51,97 persen. “Kalau berbicara jangka panjang, kondisi ketenagakerjaan di Jawa Tengah menggambarkan masih banyak pekerja lulusan SD karena struktur penduduknya masih banyak yang lulusan ini dibandingkan dengan lulusan perguruan tinggi maupun level pendidikan yang lain,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah Margo Yuwono di Semarang, Jumat (6/5).

Jumlah tersebut banyak karena penduduk dengan latar belakang pendidikan SD atau ke bawah cenderung tidak memilih dalam mencari pekerjaan. Berbeda dengan lulusan perguruan tinggi yang lebih memilih pekerjaan yang ingin digeluti.

“Dengan kondisi ini berarti produktivitas pekerja masih rendah, yang itu pasti tingkat kesejahteraan juga rendah. Efeknya, upah akan mengikuti,” katanya.

Margo mengatakan, kebanyakan para pekerja dengan lulusan SD ini bekerja di sektor informal. Biasanya, pekerjaan di sektor formal tidak dapat menyerap mereka, selanjutnya mereka hanya akan bekerja di sektor informal salah satunya usaha kecil dan menengah (UKM).

“Dampaknya, hasil kerja mereka akan berpengaruh terhadap rendahnya daya saing. Karena itu, Pemerintah perlu melakukan sejumlah upaya, salah satunya program kemitraan,” katanya. (Ant)