PENGABDIAN ESTAFET DANLANAL PERBATASAN

USAI pisah sambut, foto bersama

Lanal Ranai, ganti pucuk pimpinan. Dari Kolonel Laut (P) Tony Herdijanto ke Letkol Laut (P) Herry Setyawan.

 

infonusantara.co.id, NATUNA – Mimik wajah Kolonel Laut (P) Tony Herdijanto sulit di terka. Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut Ranai, Natuna itu, sedang gembira atau gundah gulana. Sebab dalam hitungan hari, ia akan pindah tugas ke Kota Surabaya. Di atas podium pisah sambut, Rumah Makan Sisi Basisir, bersama istri tercinta, perwira melati tiga itu, bercerita tentang kenangan terindah selama setahun bertugas di Natuna.

Kenangan terindah, ketika bersama rekan-rekan beda satuan, bahu membahu menjaga pertahanan, keamanan dan ketertiban kabupaten kepulauan perbatasan di tengah negara Asean ini. Tak lupa, bersama anggota satuannya, menjaga laut dari gangguan kapal ikan asing pelaku illegal fishing, atau pelaku kejahatan laut lainnya.

“Kami satuan TNI AL akan terus berusaha berbuat terbaik bagi bangsa dan negara, khusus keamanan kawasan laut Natuna,” kata Kolonel Tony, Sabtu malam 10 Februari 2018. “Agar masyarakat nelayan tak merasa resah melaut, dan pedagang selalu aman berlayar.”

Sebelum mengakhiri sambutan, Kolonel Tony mengucapkan permohonan maaf, selama setahun bertugas, punya tutur kata salah. “Sebagai manusia biasa, saya bersama istri mungkin punya kesilapan,” katanya. “Mohon maaf disampaikan, biar kami tenang melangkah di tempat tugas baru.”

Letnan Kolonel Laut (P) Harry Setyawan berharap dalam bertugas sebagai Danlanal Ranai mendapat dukungan dan kerjasama seluruh stackholder, baik dari rekan-rekan beda satuan, pemerintah daerah dan masyarakat. Sekilas Letkol Harry bercerita tentang profil dirinya.

Ia lulusan Akademi Militer 1997, dibawah satu tingkat Kolonel Tony. Sebelum mendapat amanah sebagai Danlanal Ranai, Letkol Harry lebih banyak bertugas di satuan kapal selam. Namun ia yakin dapat beradaptasi dengan masyarakat Natuna, karena lama bertugas di satuan kapal selam di Tanjunguban, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau.

“Jadi lama bertugas di laut, saat mendapat tugas di darat, saya merasa sedikit goyang kena gelombang daratan,” canda Letkol Harry. “Tapi saya tetap bersyukur, mendapat kepercayaan menjadi Danlanal Ranai,” katanya lagi sedikit serius.

Tak di pungkiri, menurut Letkol Harry, setiap prajurit mendapat tugas di Natuna, merupakan orang pilihan. Karena, ketika mereka pindah tugas dari kabupaten ini, khusus satuan TNI AL, akan memperoleh promosi jabatan atau kenaikan pangkat. “Ada yang meraih pangkat bintang satu,” katanya. “Dulu prajurit TNI AL itu, pernah bertugas menjadi Danlanal Ranai.”

Kenapa prajurit pilihan bertugas di Natuna? Sebab, kabupaten kepulauan, salah satu beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, mendapat perhatian serius Pemerintah Republik Indonesia. Terutama ketika beberapa kali, Presiden RI Joko Widodo berkunjung. “Natuna ditetapkan sebagai kawasan khusus,” katanya. “Sehingga prajurit terbaik mendapat tugas di kabupaten ini.”

Wakil Bupati Natuna Ngesti Yuni Suprapti mengucapkan selamat jalan, serta selamat bertugas di tempat baru bagi Kolonel Tony, dan selamat datang Letkol Harry. Setengah bercanda, Ketua Partai Golkar Natuna itu mempertanyakan acara pisah sambut, mengingat serah terima jabatan, antara Kolonel Tony dengan Letkol Harry belum dilaksanakan.

“Jika belum Sertijab, Pak Toni masih ada waktu marah-marah Pak Harry,” candanya. “Kan belum Sertijab, bertanda Pak Tony masih Danlanal Ranai,” candanya lagi, sambil menyampaikan permohonan maaf Bupati Natuna Abdul Hamid Rizal tak bisa menghadiri acara pisah sambut ini. “Pak Bupati sedang tugas luar daerah,” katanya. “Beliau kirim salam.”

Ngesti sependapat dengan Letkol Harry, prajurit bertugas di kabupaten perbatasan ini, adalah para prajurit pilihan terbaik dipercayakan negara. Mengingat, mengamankan wilayah darat, udara dan laut perbatasan, merupakan tugas paling berat.

Apalagi Natuna mendapat perhatian khusus Presiden Joko Widodo, dengan lima pilar percepatan pembangunan, yaitu: bidang pertahanan dan keamanan, minyak dan gas, perikanan, pariwisata serta lingkungan hidup.

“Hankam dan perikanan terus di gesa pembangunannya. Tinggal migas, pariwisata serta lingkungan hidup. Untuk migas, saya berencana mengusul ke pusat, agar Natuna di bangun kilang pengolahan. Sehingga terbuka lapangan kerja dan terdongkrak ekonomi masyarakat Natuna,” katanya.

Sebelum acara pisah sambut berakhir, dengan di selingi nyanyian Ibu-ibu Jalasenastri, Kolonel Tony beserta istri banyak mendapat cenderamata dari seluruh elemen masyarakat. Terlihat hadir, antara lain, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara Ranai Kolonel (Pnb) Izhar Aditama dan Komandan Kodim 0318/Natuna Letkol (Inf) Yusuf Rizal.

Sementara jejak Digital Kolonel Tony, selama setahun bertugas di Natuna, cukup signifikan. Bersama satuan dan armada lautnya, berhasil mengamankan puluhan kapal ikan asing illegal fishing. Kapal ikan asing tangkapan, sudah berkekuatan hukum tetap pengadilan, ditenggelamkan. Tak tanggung-tanggung, setiap penenggelaman kapal, beberapa kali Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti, hadir.

Jejak digital kedekatan dengan masyarakat juga tak terbantah. Sebab selama menjabat Danlanal Ranai, sejumlah giat bakti sosial dengan masyarakat terlaksana. Tak pernah terdengar terjadi gesekan antara prajurit TNI AL dengan masyarakat awam.

Sejumlah kalangan menilai, Kolonel Tony cukup sukses selama setahun menjabat Danlanal Ranai. “Selamat bertugas Pak Tony, bakti mu akan selalu di kenang masyarakat negeri seribu pulau di ujung utara NKRI ini,” kata Ketua GM FKPPI 3105/Natuna Boy Wijanarko. “Selamat datang Pak Harry, semoga terus melanjutkan tugas menjaga keamanan laut Natuna.” (*andi surya)