Sentuhan Melayu Raya di Rumah Ropiah

WAN Sis (tengah) foto bersama pengurus dan masyarakat depan rumah Ropiah
“Himpunan Melayu Raya Natuna terus berbakti, membantu warga kurang mampu.”

NATUNA, INFO – Pandangan mata Wan Siswandi lurus kedepan, Ahad siang 6 Oktober 2019. Ketua Himpunan Melayu Raya Natuna itu, nampak membandingkan, dua rumah kayu, saling bersebelahan. Satu tampak rapuh di makan usia. Yang satu mulai dibangun, tampak kokoh.

“Jumat depan, kita lanjutkan pembangunan rumahnya,” kata Wan Sis -biasa disapa- sambil melirik rumah kayu baru dibangun itu, beralamat di Desa Sepempang, Kecamatan Bunguran Timur. “Kalau Jumat depan, kita akan dibantu warga sekitar.”

Tapi siapa sangka, rumah kayu baru di bangun itu, bukan rumah Wan Sis. Melainkan rumah Ropiah, tinggal di rumah sebelah yang kayunya rapuh dimakan usia. Rupanya, bukan hanya rumah di makan usia, warga Sepempang itu juga sudah uzur.

“Umur Mak Ropiah sekitar 102 tahun,” bisik Sekretaris Himpunan Melayu Raya Natuna Alazi. “Beliau tak bisa jalan, hanya berbaring di tempat tidur.”

Bagai terjatuh di timpa tangga. Anak Ropiah pun, lumpuh. Jadi ibu dan anak itu, tak bisa beraktifitas. “Nama anaknya, Umi Salmah,” timpal Ketua GM FKPPI 3105/Natuna Boy Wijonarko yang turut membantu membangun rumah baru Ropiah. “Tak salah, umur anaknya, sekitar 64 tahun.”

GOTONG royong membangun rumah Ropiah

Boy turun tangan, membawa serta beberapa pengurus GM FKPPI 3105/Natuna. “Selama kegiatan sosial, kita tetap dukung,” kata Boy. “Kegiatan ini murni, membantu warga kurang mampu.”

Membantu warga kurang mampu, bukan isapan jempol belaka. Sejak terbentuk beberapa bulan lalu, Himpunan Melayu Raya, organisasi Anak Melayu Kepulauan berpusat di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) itu, dari lensa awak media, telah banyak berbuat.

Belum lama ini, rumah Martasa, warga Kampung Setedung, Desa Kelanga, Kecamatan Bunguran Timur Laut. Rumah nelayan tradisional, usia 55 tahun itu, dihantam angin puting beliung, hingga tinggal dinding, tanpa atap.

Perbaikan dirumah Martasa, berkolaborasi dengan Kapolres Natuna AKBP Nugroho Dwi Karyanto beserta anggotanya. “Semoga cita-cita Pak Kapolres dan Pak Ketua Melayu Raya tercapai,” doa Martasa dengan bibir bergetar menahan tangis, Sabtu siang 5 Oktober 2019.

Pria paruh baya itu, menahan tangis, karena tak menyangka Kapolres Natuna AKBP Nugroho Dwi Karyanto dan Ketua Himpunan Melayu Raya Wan Siswandi bersama segenap anggotanya bahu membahu memperbaiki rumahnya, yang porak poranda diterjang angin puting beliung tiga minggu lalu.

WAN Sis (tengah) Bersama Kapolres Natuna AKBP Nugroho Dwi Karyanto saat memperbaiki rumah Martasa

“Saya tak bisa berbicara apa-apa,” kata nelayan tradisional itu. “Pokoknya, semoga karier Pak Kapolres dan Pak Ketua Melayu Raya semakin sukses kedepannya,” doa Martasa lagi, yang terlihat bicara spontan, tanpa rekayasa.

Sementara, diujung Kampung Batu Bayan, Desa Cemaga Tengah, Kecamatan Bunguran Selatan, jejak bakti Himpunan Melayu Raya terpatri. Di kampung itu, rumah Usman, hangus terbakar. Hanya tersisa, puing-puing kayu menjadi arang.

“Saya ucapkan ribuan terimakasih pada Himpunan Melayu Raya, atas bantuan pakaian dan sembako-nya,” kata Usman, Sabtu 21 September 2019. “Hanya itu, saya dapat ucapkan.”

Memberi bantuan pakaian dan sembako, Ibrahim 74 tahun pernah mendapat sentuhan. Rumah warga Desa Kelarik, Kecamatan Bunguran Utara itu, serupa dengan rumah Usman. Hangus terbakar, tanpa sisa .

“Semoga bantuan pakaian dan sembako ini, sedikit meringankan beban Pak Ibrahim,” kata Wan Sis sambil ngopi bersama di salah satu kedai, depan rumah Ibrahim, Sabtu siang 14 September 2019.

WAN Sis saat memberi bantuan pakaian dan sembako pada Usman

Usai ngopi bersama, Wan Sis mengajak pengurusnya memantau kondisi rumah Ibrahim. Didampingi empunya rumah, terlihat semua menjadi arang.

“Akibat kebakaran ini, seluruh harta saya hangus terbakar,” kata Ibrahim. “Cuma tinggal baju dan celana di badan. Jadi saya ucapkan terimakasih Melayu Raya, atas bantuannya,” kata Ibrahim lagi, sambil menceritakan, saat rumah terbakar, ia berada di luar.

Sedangkan dirumah, tidak ada yang tinggal atau jaga. “Anak saya sudah besar-besar. Mereka tinggal dirumah masing-masing,” kenang Ibrahim. “Ada yang tinggal di Ranai (ibukota kabupaten Natuna-red).”

Setelah menyambangi rumah Ibrahim, Wan Sis beserta pengurusnya bergerak ke Desa Belakang Gunung. Mampir ke rumah salah satu warga, sambil makan siang, serta menyerahkan berkas pembentukan pengurus Perhimpunan Melayu Raya Bunguran Utara.

“Target kita, 15 kecamatan di Natuna, akan dibentuk Perhimpunan Melayu Raya,” kata Wan Sis. “Kita membentuk setiap kecamatan, agar semakin mempererat tali persaudaraan antar sesama.” (*andi surya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *