DaerahKriminal

Seputar Korban Permainan Notaris : “Urusannya ke BTN” Kata Notaris Wany Thamrin Korban Membantah, Kasusnya Diproses Polisi

perincian dalam kwitansi yang dibuat terkesan mengada-ada  Sebab ada yang seharusnya tidak dikenakan biaya, malah tercantum
perincian dalam kwitansi yang dibuat terkesan mengada-ada Sebab ada yang seharusnya tidak dikenakan biaya, malah tercantum

infonusantara.co.id, Batam – Menyambung  pemberitaan media ini dalam  tiga edisi lalu tentang  korban dugaan permainan Notaris, sejauh ini belum ada penyelesaiannya.   Hanya saja,  sat media ini akan menemui  Notaris  Wany Thamrin menggu lalu untuk konfirmasi, tidak bersedia.  Dihubungi melalui Hp, Wany Thamrin mengatakan, bahwa  permasalahan yang terjadi antara dirinya dengan Murni Liveon sudah selsai.  Wany mengatakan,  sekarang urusannya (maksudnya urusan Murni Liveon-red),   tidak ada lagi sangkut pautnya dengan dirinya,  melainkan berurusan dengan pihak BTN. Namun  sebaliknya pihak korban yang dikonfirmasi media ini menjelaskan, bahwa apa yang dikatakan  Notaris  Wany Thamrin adalah tidak benar dan bohong,  kata suami Murni Liveon.  Murni Liveon lebih lanjut menjelaskan,  bahwa  tindak lanjut pengaduannya ke Polresta Barelang terhadap Notaris Wany Thamrin,  dirinya sudah diproses unit 5 Satreskrim Polresta untuk dimintai keterangannya.   Hanya saja, Murni Liveon tidak mengetahui jelas, apakah juga  terlapor  Notaris Wany Thamrin sudah diperiksaNamun yang pasti, kata Murni Liveon,  laporan polisinya belum dicabut, kendati  Notaris Wany Thamrin menawarkan mengembalikan uang mereka sebe4sar Rp20 juta dari Rp45 juta yang dipotong dari pinjaman bulan Mei 2016 lalu sebagai biaya Notaris.

Seperti pemberitaan beberapa edisi media ini,   Murni Liveon membeli   rumah di kawasan kecamatan Sekupang  Batam merasa dirugikan oknum Notaris disebabkan biaya  tinggi yang dikenakan dalam jual beli rumah tersebut.   Secara kronologis, korban Murni Liveon memaparkan kejadian yang menimpa dirinya kepada Media ini,  berawal  saat dirinya  akan membeli rumah  dari pemilik pertama Bernasdus Pakpahan senilai Rp70 juta  pada awal April 2016 lalu.   Diketahui,  keadaan  rumah tersebut sudah rusak parah tidak bisa lagi ditempati sehingga memerlukan biaya yang sangat besar melebihi dari harga jual beli diatas untuk merenovasinya agar layak  huni.  Selanjutnya  untuk membiayai renovasi  rumah tersebut,  tanggal  6 April Murni mengajukan permohonan pinjaman ke BTN.

Tanggal  20 April diadakan Akad kredit antara pembeli dan penjual di hadapan Notaris Wany Thamrin SH di BTN cabang Sekupang.  Namun ternyata  permohonan pinjaman yang diajukan Murni Liveon belum cair.  Justru pihak BTN meminta penjual (pemilik rumah-Bernardus Pakpahan) membuka rekening BTN terlebih dahulu agar nantinya pinjaman Murni ditransfer ke rekening penjual.  Bernardus pemilik rumah yang sudah berdomisili di Jakarta beberapa hari menunggu terjadinya transfer dari BTN ke rekening yang telah dibukanya.  Namun entah alasan apa, pihak BTN belum juga mencairkannya sehingga akhirnya Bernardus kembali ke Jakarta dengan rasa kecewa.

Setelah sampai di Jakarta, pihak penjual (Bernardus Pakpahan) menghubungi Murni (pembeli) tentang realisasi pinjamannya ke BTN yang semuanya berjumlah Rp180 juta.    Kemudian pihak pembeli (Murni) mencoba menghubungi Notaris sehingga memberikan nomor HP Notaris kepada penjual.  Dari komunikasi antara Notaris dan penjual, akhirnya mereka sepakat bertemu di Jakarta. Hasil pertemuan mereka di Jakarta  Notaris menahan buku tabungan BTN penjual beserta KTP untuk dibawa ke Batam.  Sepertinya dana pinjaman Murni (pembeli) , akan ditarnsfer melalui rekening penjual, kata Murni kepada Media ini.  Tanggal 3 Mei pihak penjual datang ke Batam dari Jakarta menuju kantor Notaris Wany Thamrin beserta pembeli rumah.  Setelah dari kantor Notaris, penjual dan pembeli menuju kantor BTN Sekupang untuk pencairan pinjaman sebesar Rp180 juta.

Dari pinjaman yang diajukan Rp180 juta yang ditarnsfer BTN ke rekening penjual itu, perinciannya direncanakan pembeli adalah Rp70 juta untuk membayar rumah dan sisanya setelah dikurangi biaya-biaya Notaris dan administrasi untuk merenovasi rumah.  Kemudian pembeli disarankan BTN untuk membuka rekening.  Seelah itu, barulah uang pinjaman ditarnsfer ke rekening pembeli dari rekening penjual sebesar Rp65 juta. Maka dari jumlah pinjaman Rp180 juta yang akan diangsur selama 15 tahun dengan angsuran Rp2.100.000 perbulan, pembeli menghitung 65 juta merupakan biaya Notaris dan biaya-biaya administrasi lainnya.   Kemudian diketahui, bahwa biaya Notaris dikenakan Rp45 juta dari jual beli rumah senilai Rp70 juta tersebut berdasarkan Kwitansi yang diberikan Notaris. Biaya Notaris sebesar Rp45 juta itu,  tentu menurut pembeli terlalu tinggi sementara jual beli rumah itu sendiri adalah Rp70 juta.       Merasa dirugikan, akhirnya Murni membuat laporan polisi ke Polresta Barelang setelah beberapa kali mencoba menemui Notaris Wany Thamrin tidak berhasil, namun selalu pegawainya yang bisa ditemui.   Tidak itu saja,  Murni juga membuat surat pengaduan ke Menteri Hukum dan Ham  maupun juga kepada Presiden Jokowi.

Kasus dugaan permainan Notaris yang diduga kuat melibatkan BTN,  kini semakin melebar  yang melibatkan BTN maupun salah satu perusahaan Asuransi di Jakarta,  Perusahaan Asuransi yang memproteksi  rumah yang dibeli maupun pemiliknya  yang dilibatkan pihak BTN diduga kuat fiktif.   Dugaan fiktif berawal  dari penyerahan Polis  oleh BTN kepada  pembeli rumah yaitu Murni Liveon.  Polis Asuransi yang memproteksi  kebakaran dan jiwa  yang diserahkan pihak BTN tidak asli,  melainkan berbentuk  “Scan”.    Karena merasa curiga,  Murni Liveon menghubungi pihak Asuransi ke Jakarta melalui telepon untuk mengecek,  apakah rum,ah dan namanya  terdaftar di Asuransi tersebut.

Ternyata kecurigaan pembeli rumah (murni Liveon)  terbukti, karena jawaban dari pihak Asuransi,  menjelaskan, bahwa rumah maupun nama Murni Liveon,  tidak pernah terdaftar apalagi membayar premi Asuransi di perusahaan tersebut.  “ Pihak Asuransi PT PAN yang dihubungi Kamis (6/10) 2016 menyatakan, bahwa namanya tidak pernah terdaftar atau didaftarkan BTN Batam sebagai peserta asuransi kebakaran dana jiwa”  kata Murni Liveon kepada media ini  beberapa waktu lalu.   Padahal kata Murni, biaya premi sebesar Rp4.100.000  dengan perincian Rp2.900.000 untuk premi kebakaran dan Rp1.200.000 untuk asuransi jiwa.   Murni menjelaskan, pihak BTN harus bertanggungjawab dan juga akan mengadukannya ke pihak berwajib.   . Pegawai BTN Sekupang  berinisial  Yd yang disebut-sebut menyerahkan polis asuransi itu kepada Murni,  sampai saat ini, i  belum bisa dihubungi.  Media ini masih akan terus mengikutinya  yang diduga kuat sudah banyak korban masyarakat  dengan modus pernmainan Notaris bekerjasama dengan oknum-oknum pegawai BTN. (arifin)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker