Kolom Penulis

TUHAN DI PECAT

*) Foto ilustrasi : Robby Fibrianto Sirait

Penulis : Robby Fibrianto Sirait

Pada suatu malam, Tuhan sedang duduk di kursi. Di depannya, ada meja yang di atasnya terletak sebuah buku catatan, dan sebuah pena yang berada di tengah-tengah buku itu. Selain itu, novel berjudul Dunia Sophie juga berada disana. Novel itu tak kunjung selesai dibaca Tuhan, sebab cukup sulit dipahaminya. Novel milik Ayahnya, yang diambilnya dari rak buku, yang berada di ruang tamu rumah mereka. Rak buku itu cukup besar, namun sudah hampir padat, oleh ratusan buku yang tersusun rapi, sehingga kalau Ayah Tuhan masih terus membeli buku, sepertinya mereka juga harus membeli rak buku baru.

Selain itu, mereka juga berlangganan koran Kompas yang selalu diantar setiap pagi. Tuhan pernah heran, kenapa Ayahnya begitu rajin membaca dan membeli buku, mengingat Ayahnya hanyalah seorang petani. Untuk apa petani punya banyak buku. Hal itu pernah dipertanyakan Tuhan kepada Ayahnya.

“Petani juga harus banyak membaca Nak. Supaya banyak pengetahuan. Supaya gak gampang dibodoh-bodohi oleh orang-orang rakus dan punya kuasa. Sekarang ini orang-orang rakus banyak merampas tanah petani. Jadi pengetahuan adalah salah satu senjata kita untuk melawan mereka.”

******

Saat hendak lanjut menulis, Tuhan dipanggil Ibunya.

“Tuhan, makan dulu kau nak.”

“Iya Mak. Bentar,” sahut Tuhan.

Setelah menutup buku hariannya, Tuhan lalu berlari ke ruang tamu. Ayah dan Ibunya sudah berada disana, dan makan malam pun sudah terhidang.

“Ngapain kau di kamar aja Tuhan?” Tanya Ayah Tuhan. Namanya Igor Sirait. Sirait ialah salah satu marga dari suku Batak Toba, dan kau pasti tahu, Batak Toba merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia. Sedangkan Ibu Tuhan bermarga Silalahi. Oleh karena suku Batak bersifat patrilineal, maka mau tak mau, suka tidak suka, Tuhan harus bermarga Sirait. Jadi nama lengkapnya adalah Tuhan Nabasa Sirait.

“Nulis cerpen Pak. Disuruh guru bahasa Indonesia kami buat cerpen.” Ucap Tuhan, sambil mengambil sendok yang berada di atas piring, sembari menunggu Ibunya menyendoki nasi dari periuk ke piring.

“Apa itu cerpen?” Tanya Buk Tiur, Ibunya Tuhan.

“Cerita Mak. Cerita yang pendek.”

“Bah iyanya? Maklumlah nak, Mamakmu ini cuma tamat SD. Jadi gak tau-tau yang kayak gitu.”

Makana, marruttung do ho olo au mangoli dohot ho. Au sarjana. Ho tammat SD do. (Makanya, beruntungnya kau, mau aku samamu. Aku Sarjana, sementara kau cuma tamat SD.) ” Ucap Pak Igor sambil tertawa becanda.

Olo. Alok pe songoni gok do manandangi au dah. Na Dokter pe adong. Polisi pe adong. Ho do maruntung, olo au tu ho. Jadi unang ginjang roham. (Iya. Walaupun gitu banyak yang mencoba meminang aku, ya. Ada dokter. Ada Polisi. Jadi, harusnya kau yang beruntung, aku mau samamu. Jadi gak usah tinggi hati.) ” Ucap Buk Tiur membalas candaan Pak Igor.

Oloma hasianku. (Iyalah sayangku.)” Balas Pak Igor, tertawa. Rumah itu seketika menjadi penuh dengan suara tawa yang berasal dari Pak Igor dan Buk Tiur, dan keduanya tiba-tiba berhenti tertawa, melihat Tuhan hanya berdiam diri, sambil memandang ke arah asbes ruangan itu.

Ruangan itu menjadi hening. Pak Igor dan Buk Tiur ikut diam, sembari menatap Tuhan yang tenggelam dalam lamunannya. Tak biasanya Tuhan berdiam diri saat sedang bersama. Ia biasanya aktif dalam pembicaraan. Pak Igor dan Buk Tuhan, heran, dan sesekali saling lihat-lihatan, namun tak ada yang kunjung memecah kebisuan.

“Kenapa kau Tuhan?” Ucap Pak Igor memulai kembali percakapan.

“Haa?” Respons Tuhan kaget, dan wajahnya diliputi perasaan bersalah karena asyik melamun sendiri. “Malas aku melanjutkan cerpenku itu Pak. Padahal udah mau siap.”

“Kok gitu Nak? Emang tentang apa yang kau tulis?”

“Bapak pasti udah baca kan koran tadi pagi. Ada mahasiswa Akademi Sumatera Utara dipecat Rektornya karena nulis cerpen. Katanya cerpennya itu mengandung LGBT.”

“Terus apa hubungannya sama cerpenmu Nak?”

“Takut aku kena pecat dari sekolah Pak. Soalnya ada juga unsur LGBT-nya.”

“Kalo dipecat, yaudah, kita cari sekolah yang baru,” ucap Ayahnya tersenyum, merasa tergelitik melihat keluguan anaknya.

Tuhan lalu menceritakan kepada Ayah dan Ibunya kenapa ia menuliskan cerpen seperti itu. Ia cukup resah dengan seorang temannya, laki-laki yang terus diejek, karena sering, dan kemana-kemana selalu bersama perempuan. Temannya itu selalu menangis begitu mendapat ejekan. Setelah itu Tuhan menceritakan isi cerpennya, yaitu tentang seseorang bernama Baron, yang juga sering mendapat ejekan dari lingkungan sekitarnya. Karena tak tahan dengan ejekan itu, si Baron gantung diri, lalu mati. Kemudian Tuhan mengangkatnya ke Surga.

“Kalau kau takut, buat aja yang baru,” ucap Pak Igor.

“Masalahnya aku gak mau cerpen itu gak jadi Pak.”

“Kalau gitu lanjutkan aja Nak. Kalau pun kau dikeluarkan dari sekolah, itu tak masalah. Berarti sekolahmu membatasi kreativitas. Bapak gak mau kau berada di sekolah yang membatasi orang untuk berkarya.” Ucap Pak Igor, dengan muka serius, yang sebenarnya dibuat-buat agar Tuhan yakin dan mau melanjutkan tulisannya. Dia tak begitu yakin, Tuhan dikeluarkan dari sekolah hanya karena cerpen, walaupun kemungkinan itu tetap ada.

Ucapan Pak Igor membuat Tuhan heran sekaligus senang. Iya merasa heran dengan Ayahnya yang tak mempersoalkan kalau dia dikeluarkan dari sekolah.

“Serius Pak?”

“Iya. Gas terus!” Ucap Pak Igor sambil menepuk-nepuk pundak Tuhan dengan pelan. Tuhan merasa senang, walau ia masih heran, kenapa Ayahnya, bicara seperti itu. Ayah mana yang mau anaknya dipecat dari sekolah? Buk Tiur pun diam saja. Artinya, kalau Buk Tiur diam setelah Pak Igor selesai bicara, itu menandakan Buk Tiur setuju. Begitu juga sebaliknya, ketika Pak Igor diam setelah istrinya bicara, itu tandanya Pak Igor setuju. Membuat Tuhan heran melihat kedua orang tuanya.

Namun, daripada meneruskan keheranannya, ia lebih memilih fokus memikirkan akhir cerita pendeknya. Setelah makan malam selesai, lanjutlah dia menulis.

********

Bising sekali. Suara itu datang dari berbagai sumber. Dari langkah kaki yang berlari-lari, benturan kursi-kursi, pukulan tangan di meja, dan mulut-mulut yang nyaring, berkumpul menjadi satu keributan yang memenuhi ruangan itu.

Ruangan kelas, dimana Tuhan sedang menunggu gurunya. Sudah tak sabar ia mengumpulkan PR, cerpen yang kemarin malam selesai ditulisnya.

Tuhan memang selalu bersemangat mengumpulkan PR yang diberikan guru-gurunya. Tak heran, ia selalu mendapat pujian dari guru-gurunya. Dan sekadar memberi tahu, Tuhan adalah juara umum di sekolahnya.

Seketika, ruangan itu menjadi hening. Dengan gerakan cepat, teman-teman Tuhan yang tadinya bermain dan berlari-lari,  mendadak seperti patung, diam di kursinya masing-masing.

Pak Boris, Guru Bahasa Indonesia mereka, telah masuk kelas, dan duduk di hadapan murid-murid itu.

“Ayo. Kumpul PR-nya,” ucap Pak Boris kepada mereka. “Jangan cuma jago buat ribut aja,” tambahnya, sedikit membentak. Pak Boris adalah salah satu guru yang terkenal galak di sekolah itu. Tidak jarang dia membawa murid-murid yang bandal ke kantor Bimbingan dan Penyuluhan (BP). Kantor yang lebih terasa seperti neraka, ketimbang sekadar ruangan yang berisi beberapa meja dan kursi serta seorang guru BP. Setidaknya begitulah anggapan murid-murid nakal di sekolah itu.

“Yang tidak mengerjakan PR, keluar!”

Murid-murid itu mulai melangkah. Ada yang menuju ke arah meja Pak Boris, ada juga yang berjalan ke arah pintu, ke luar ruangan kelas. Dengan sedikit ragu, Tuhan melangkahkan kakinya ke meja Pak Boris, dan meletakkan PR-nya disana. Ada tekanan di perasaannya.

Kelas itu tetap hening. Murid-murid disuruh Pak Boris membaca sebuah bab di buku mata pelajaran Bahasa Indonesia milik mereka, sementara Pak Boris membaca cerpen-cerpen yang terkumpul di mejanya.

Tibalah saatnya, Tuhan dipanggil Pak Boris mendekat ke mejanya. Hal itu membuat Tuhan semakin cemas dan jantungnya berdebar-debar.

“Kok bisa kau nulis kayak gini?” ucap Pak Boris.

“Ini udah melanggar ajaran agama.”

Tuhan hanya diam.

“Dari mana jalannya homo masuk surga?”

Tuhan diam lagi

“Jawab!” nada Pak Boris meninggi.

“Saya tak mau menjawab Pak,” gumam Tuhan, walaupun di dalam hatinya tersedia sebuah jawaban. “Homo kan manusia juga. Ciptaan Tuhan juga. Dan Tuhan lah yang membuat mereka menjadi homo. Maka tak mungkin Tuhan sengaja menjerumuskan ciptaannya ke neraka. Tuhan tak sekejam itu!”

“Kenapa kau tak mau jawab?”

“Bapak pernah berdoa kan? Saya sering bertanya kepada Tuhan di dalam doa saya. Kenapa ada homo? Kenapa ada pelacur? Apakah Tuhan sengaja yang buat? Tapi Tuhan tak pernah menjawab doa saya.”

“Emang kau Tuhan?” bentak Pak Boris mulai marah.

“Nama saya Tuhan Nabasa Sirait, Pak!”

“Keluar kau!”

*****

Mendengar cerita anaknya, Pak Igor berang. Dia benar-benar marah. Cerpen yang tak diterima guru Tuhan, disalin beberapa lembar. Lalu cerpennya itu diketik Pak Igor di komputernya, lalu mempublikasikannya di Blog dan akun facebooknya.

“Nak. Setelah kubaca cerpenmu ini, isinya bagus kali. Gurumu itu gak ngerti cerpen yang bagus.”

Pak Igor dan Tuhan berdiskusi cukup panjang malam itu. Keduanya cukup serius. Sedangkan Buk Tiur memasak di belakang, di dapur. Pak Igor dan Tuhan setuju, cerpen yang telah disalin itu akan ditempel di pintu ruangan kantor guru.

****

Cerpen Tuhan menjadi viral dan menjadi perbincangan guru-guru di sekolah itu. Mereka membacanya dari Facebook, dan beberapa lagi membacanya dari kertas yang tertempel di pintu ruangan kantor mereka. Pak Igor yang seharusnya pergi ke sawah, malah tidak jadi, setelah ditelepon kepala sekolah. Dengan tenang, dia datangi sekolah itu, menemui kepala sekolah yang dianggapnya terlalu berlebihan.

Sebelum bertemu kepala sekolah, Pak Igor menemui Tuhan terlebih dahulu, dan disempatkannya pula untuk bercanda dan sidikit berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Sedikitpun, tak ada rasa gugup dalam diri Pak Igor, saat dia masuk ke ruang kepala sekolah. Sedangkan Tuhan yang menunggu di luar, merasa sedikit cemas, perasaannya gundah. Lama sekali dia menunggu, sampai akhirnya tampaklah Pak Igor dengan penuh senyuman berjalan ke arah Tuhan. Sepertinya semua baik-baik saja, membuat perasaan Tuhan mulai tenang.

“Gimana Pak?” Ucap Tuhan berdiri, yang tadinya duduk di kursi panjang, yang berada di lorong, pemisah antara kantor kepala sekolah dengan kantor guru.

Pak Igor dan Tuhan berjalan ke arah gerbang, ke luar sekolah itu.

“Mari kita cari sekolah baru. Sekolah yang tak membatasi orang berkarya!”

Dan isi amplop itu adalah surat pemecatan Tuhan karena cerpennya menjadi viral setelah dipublikasi di Facebook. Tuhan sang murid teladan dan juara umum sekolah, telah dianggap mencemarkan nama baik sekolah.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker