Upacara Peringatan Harkitnas di Makodim 0317/Tanjung Balai Karimun

SUASANA upacara

infonusantara.co.id, KARIMUN – Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke 110, Kodim 0317/Tanjung Balai Karimun melaksanakan upacara bendera di Jalan Soedirman, Poros Tebing, Karimun, Senin 21 Mei 2018. Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Komandan Kodim 0318/TBK Letkol (Arm) Rizal Analdie. Komandan Upacara, Kapten (CPL) E.S Nasution.

Menteri Kominfo RI, dalam amanat di baca Dandim 0317/TBK Letkol (Arm) Rizal Analdie menyatakan, ketika rakyat berinisiatif berjuang meraih kemerdekaan dengan membentuk berbagai perkumpulan, lebih seabad lalu, nyaris tak punya apa-apa. Hanya memiliki semangat dalam jiwa dan kesiapan mempertaruhkan nyawa. Akhirnya sejarah membuktikan, semangat itu telah cukup, asal seluruh rakyat bersatu dalam cita-cita sama, Kemerdekaan Bangsa.

Bersatu, kunci utama menggapai cita-cita. Pada saat yang sama tantangan maha kuat menghadang di depan. Boedi Oetomo memberi contoh bagaimana dengan berkumpul dan berorganisasi tanpa melihat asal-muasal, bisa mendorong tumbuh semangat nasionalisme yang menjadi bahan bakar utama kemerdekaan.

Boedi Oetomo, salah satu penanda, Bangsa Indonesia pertama kali menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan. Presiden pertama dan Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia Soekarno pada peringatan hari Kebangkitan Nasional pada 1952 mengatakan, “Pada hari itu kita mulai memasuki satu cara baru untuk melaksanakan satu ide, satu naluri pokok daripada Bangsa Indonesia. Naluri pokok ingin Merdeka, naluri pokok ingin hidup berharkat sebagai manusia dan sebagai bangsa. Cara baru itu ialah mengejar sesuatu maksud dengan alat organisasi politik, cara berjuang dengan perserikatan dan perhimpunan politik, cara berjuang dengan tenaga persatuan.”

Para pendahulu berkumpul dalam organisasi – organisasi, seperti Boedi Oetama memberi yang terbaik bagi terbentuknya bangsa melalui organisasi. Bukan dengan memberikan harta atau senjata, melainkan dengan komitmen sepenuh jiwa raga. Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana saat itu, mereka terus menghidupi api Nasionalisme dalam diri masing-masing.

Seratus sepuluh tahun kemudian bangsa ini telah tumbuh menjadi bangsa besar dan maju. Sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Meski belum sepenuhnya sempurna, rakyat telah menikmati hasil perjuangan para pahlawan, berupa meningkatnya perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Keringat dan darah pendahulu bangsa telah menjelma menjadi hamparan permadani perikehidupan nyaman dalam rengkuhan kelambu Kemerdekaan. Kalau sekarang bangsa ini punya hampir segala dibutuhkan, seharusnya terinspirasi embrio bangsa seabad lalu yang mampu menghasilkan energi dahsyat menuju kejayaan. (*andi surya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *