Proyek Rijid Beton di Campang Raya, Belum Lama Sudah Retak-Retak Diduga Akibat Kualitasnya Buruk.

oleh -210 Dilihat

Bandarlampung.INFO NUSANTARA.co.id. Proyek pembangunan rijid beton dijln. Alimuddin umar, kel campang raya, kec sukabumi, kota Bandar lampung, diduga belum lama sudah retak-retak dan kualitasnya buruk serta minim sekali. ”

Hal tersebut terpantau oleh awak media di lokasi pembangunan rijid beton, karena diduga proses matrial antara batu spelit dan semennya tidak sesuai, dan terlihat bayak pasir dari pada semen, sehingga rijid beton tersebut mudah retak dan rapuh, karena kualitasnya rendah dan minim sekali.” Jum’at. 20/12/24.

Pasalnya, proses pembangunan rijid beton / rabat beton tersebut, saat pengerukan tanah dengan alat Exapator dan sebelum di gelarnya material rijid beton, namun pemadatan tanahnya tidak menggunakan pibro roller alat pemadatan, melainkan menggunakan alat Exapator untuk meratakan dan menekan tanah, hal tersebut diduga menyalahkan aturan dari Dinas tersebut, dan diduga tidak sesuai di dalam rancangan anggaran biaya (Rab).

Selain itu, di lokasi proyek tidak terlihat memasang Papan Informasi, sehingga proyek tersebut diduga melanggar keterbukaan informasi publik (KIP) dan masyarakat juga tidak dapat mengetahui besar anggaran proyek tersebut dan perusahaan / cv yang mengerjakannya juga belum dapat diketahui, padahal sudah jelas setiap ada kegiatan / program pemerintah yang bersumber dari APBD/APBN harus transparan ke masyarakat,

Kemudian, warga setempat, Bambang. saat ditanya media dirinya tidak mengetahui siapa pemilik proyek ini, hanya dia mengaku menjaga dan mengatur lalu lintas di jalan tempat bangun tersebut, dan pekerjaan ini berasal dari Dinas PU kota Bandar Lampung.

Dan pekerjaan tersebut terkesan tidak transparan, dilokasi pun tidak ditemukan rekanan pemborong dan pengawas dari Dinas PU serta konsultannya pun tidak berada di tempat, sampai berita ini terbit pihak yang terkait belum ada yang bisa menyampaikan keterangannya.”

Mulyadi, selaku tukang, ketika di tanya media, mengatakan bahwa proses gelar rijid beton ini tidak menggunakan pibro pemadatan, melainkan pakai alat Exapator berat saja mengerjakannya, dan saat ditanya panjang dan lebar bangunan tersebut, ia mengatakan tidak tau, hanya ketebalan rijid ini 40cm. katanya. ”

Ia bang mengerjakannya malam-malam dan tidak pakai pibro roller alat pemadatan tanah dan meratakan jalan, memang Kita tidak memakai alat itu, kita kerjakan biasa saja.”ujarnya, sabtu. 14/12/24.

Sumber setempat mengatakan, dari awal proses pembangunan rijid beton ini saya perhatikan, tanahnya di keruk pakai alat Exapator lalu di tekan-tekan pakai alat pengeruknya, setelah agak rata menurut mereka, lalu di timpa coran materialnya, itupun hasilnya tidak rata masih keliatan batu spelitnya dan sudah terlihat ada yang retak sampai bawah, karena diduga tidak menggunakan alat pibro roller, alat pemadatan tanah. ”

Sehingga rijid beton ini di sinyalir tidak akan bertahan cukup lama, karena kualitasnya rendah sekali.

Diminta kepada aparat penegak hukum (Aph) seperti kejaksaan negeri maupun kejati lampung, agar turun meninjau ke Lokasi pembangunan rijid beton tersebut, jika ditemukan adanya penyalahgunaan korupsi, agar dapat segera di tindaklanjuti secara hukum.” tegasnya. (Tim)